15.000 atau Gratis?

original_245164_OdrtKMHsm_joUb_11pB60Zgcg

 

 

Mengambil rute penerbangan CGK-UPG atau Jakarta-Makassar adalah kewajiban satu kali atau dua kali setahun untuk aku, mahasiswi rantau dari Makassar yang kuliah di Jakarta. Pulang kampung menjadi hal yang sangat menyenangkan dan ditunggu-tunggu. Waktu berkumpul bersama keluarga selalu menjadi hal yang dirindukan. Dengan penuh rasa antusias dan tak sabar untuk secepatnya tiba di Makassar, saya duduk di pesawat dengan tenang.

Tiba-tiba rasa aneh yang tak biasa datang. Sepertinya tamu bulanan datang, lebih cepat dari biasanya. Kuperiksa tas-tas kecil yang berisi perlengkapan make up, ternyata kali ini aku lupa membawa pembalut yang biasanya memang ada di tas. ‘Ya ampun, gimana ini?’ aku bertanya dalam hati.

Pesawat yang aku tumpangi tiba di Bandara Juanda, Surabaya, untuk transit. Para penumpang pesawat disilakan untuk turun dan istirahat di ruang tunggu. Aku segera ke kamar mandi untuk mengecek, dan ternyata benar, aku sedang PMS. Dengan cepat aku mendatangi minimarket-minimarket yang ada di dalam bandara, mencari toko yang barangkali saja menjual pembalut wanita. ‘Habis’, ‘ga jual’, ‘ga ada’, ‘coba cari di toko lain’, hanya itu jawaban yang aku dapat dan ‘barang’ yang dicari tak kunjung didapat. Aku mulai panik mengingat waktu keberangkatan ke Makassar sudah semakin dekat. Aku pun berjalan dengan ritme lebih cepat hingga menemukan mini market yang menjual pembalut wanita.

“Mbak, ada pembalut ga?”

“Iya.” seorang kasir minimarket mengambilkan pembalut itu.

“Harganya berapa Mbak?”

“Rp15.000,-“ dengan singkat, Mbak pegawai minimarket itu menjawab.

“Sebungkus harga Rp15.000?” aku bertanya dengan alasan harga itu sangat mahal dari harga biasa. Untuk pembalut ukuran kecil tanpa sayap dan pelindung samping. Sebungkus hanya isi 6 helai pembalut dan biasanya dijual seharga Rp3.000,- hingga Rp5.000,- di toko biasa.

“Gak, Mbak. Sehelai harganya Rp15.000,-“

“Apa??” Aku pun berpikir bahwa tidak mungkin harganya semahal itu. Bisa saja pegawai minimarket itu melihat bahwa orang yang ingin membeli pembalut itu dalam keadaan terdesak dan sangat membutuhkannya, jadi dia bisa menentukan harga yang tidak masuk akal seenaknya.

“Iya, Mbak.” Ia menjawab dan aku tidak tahu apa yang aku harus lakukan. Di satu sisi aku sangat membutuhkan pembalut, di satu sisi aku tidak terima diperlakukan seperti ini, seseorang mengambil keuntungan yang sangat tidak pantas dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tak ada pilihan.

Tiba-tiba, mungkin karena tidak suka dengan cara pegawai minimarket ini, seorang ibu yang usianya sekitar 40-50an yang sedari tadi berdiri di depan pegawai minimarket itu berbicara ke arahku.

“Mau pembalut? Ada di tas saya. Gratis.”

Aku dan ibu itu pun berjalan ke meja tempat tas ibu itu berada dan ia memberikan pembalut itu.

“Wah, terima kasih banyak, Bu.” Aku lega karena masalah ini bisa selesai.

“Sama-sama, Dik.” Ibu yang sangat baik itu pun tersenyum.

Aku bergegas ke kamar mandi dan setelah itu terlibat sebuah perbincangan singkat dengan Ibu Siska, nama ibu baik dan memiliki senyum teduh itu. Ternyata Ibu Siska menumpangi pesawat yang sama dengan pesawatku. Kami pun saling bersalaman saat berpisah di Bandara Hasanuddin, Makassar.

Sumber ilustrasi oleh David Ancheta at Coroflot

http://www.coroflot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s