Pulan Kampun ke Watansoppeng

Pulan Kampun #Day1

Ini adalah pulang kampung pertama gue ke kampung gue di Soppeng, Sulawesi Selatan, dalam 10 tahun terakhir. Berbeda dengan kepulangkampungan ke Toraja yang meski lebih jauh tapi gue tahu cara pulang perginya, gue ga pernah tau cara pulang ke sini. Ini karena orang tua Bokap (Alm. Opa dan Oma) sedari dulu memang tinggal di Makassar.

Kebetulan gue lagi di Makassar pada saat panen tiba, maka berangkatlah gue, Nyokap, dan Wiwit (adek gue) ke Kabupaten Watansoppeng a.k.a Soppeng, Oppeng, yang juga dikenal dengan kabupaten kelelawar alias kalong alias batman. Soppeng adalah kabupaten yang orang-orangnya menggunakan dialek unik khas Suku Bugis. Terkadang, kalo ngucapin kata dengan akhiran huruf “N”, akan dibaca sebagai huruf “NG” dihilangkan, sedangkan kata yang seharusnya berakhiran “NG” hanya dibaca sebagai huruf “N” contohnya : “Jangang lupa ke lapangang sian-sian” yang sebenarnya “jangan lupa ke lapangan siang-siang”.

Nyokap ngasih tau kalo mobil rental akan menjemput kami pukul 05.00 dan itu artinya gue mesti bangun sebelum jam 5. Omaigossss, knapa ga skalian berangkat jam 1 malam aja -,-. Dan benar saja, gue baru bisa tidur pukul 01.30 dini hari. Lucu kan? :s Sepanjang perjalanan, mobil rental banyak banget singgahnya dan itu ngemalesin. Gue pun sempat terancam mabok darat karena jalan yang banyak rusak dan gerakan mobil yang ga nyantai. Dan sesuatu banget, akhirnya nyampe di Soppeng sekitar pukul 11 siang. Nyampe Soppeng, abis bersih-bersih dikit *tanpa makan dulu sodara-sodara,* kami pun langsung ke sawah dengan janji Nyokap, kalo nanti kita akan makan di sawah.

Karena letak sawah yang jauh, kami menggunakan angkot yang mengantar sampai suatu tempat (yang gue ga tau tempatnya). Dari sana kami jalan kaki. Sawahnya ga tau di mana dan gue ga tau di mana sawah kami. Huaaaa, perjalanan pun mulai menggalaukan. Buat yang ngerasa Jakarta atau Makassar panas, kalian harus ngerasain jalan di tengah sawah, Bung. Panassssssssss Men. Itu pun kami bisa nyampe di sawah setelah perjalanan yang jauhhhhhhh banget, medan yang ga nyantai dan ga tau di mana dan bagaimana akan berakhir. Haha. Dan akhirnya, nyampe juga di sawah kami.

Angin sepoi-sepoi, sejuk, dan teduh akhirnya menyambut saat kami beristirahat di rumah-rumahan di tengah sawah. Mata  ke sana ke mari melihat hamparan sawah yang luasnya sesuatu banget. Beberapa menit kemudian gue pun sadar akan sesuatu. LAPAR yang LAPAR banget.  Bayangin aja, gue Cuma makan sehelai roti tawar tadi subuh dan setelah perjalanan cukup panjang, jalan menuju sawah, dan nyampai di sawah, sama sekali ga makan karena tadi buru-buru ke sawah. Tjakep.

Dua hal yang gue sadari. Pertama, kelaparan di tengah hamparan sawah itu mengerikan. Beneran gue laper banget dan ga bisa ngapa-ngapain. Ga ada mc D, pizza, atau coto atau apa aja di sana. Kedua, di sawah ga ada toilet, kecuali toilet alam. Jadi kalo mau buang air, buang airlah sebelum ke sawah. Kalau mau buang air kecil di sekitar sawah, sedia lah air, hehe.

Setelah daun berguguran, padi menguning, dan burung berkicauan, akhirnya datanglah makanan dari penggarap sawah. Puji Tuhan, hidup gue berlanjut. Gue pun makan dengan porsi ga nyantai dan sambel yang banyak. Setelah kenyang, hidup gue damai dan gue ga secerewet sebelumnya. Lebih tenang dan kalem.

#Day2

Hari ini suasana lebih santai karena semalam gue tidur pukul 22.00, jadi istirahat cukup lama. itu pun sudah tergolong lambat dibanding Nyokap dan Wiwit yang udah tidur sekitar pukul 8 malam. Beda dengan siang sampai malam, subuh di Soppeng ternyata cukup dingin. Brrrr.

Oia, rumah Opa berada di Takalalla, dekat dengan mesjid yang ada di sini. Hanya beberapa meter dari Indomaret dan Alfamidi. APAAA??? ada chain store? kaget kan lo, hehe, di Soppeng ada Indomaret dan Alfamidi, hanya berjarak beberapa kilometer dari hamparan sawah. Beda dengan Toraja yang hingga sekarang masih top dengan Toko Abadi yang serba lengkap.

Rumah Opa sama dengan sebagian besar rumah yang ada di sini, rumah panggung yang sebagian besar terbuat dari kayu selain dapur, kamar mandi, dan balkon. Makanya kalo kita melangkah di lantai, Bokapnnya akan berbunyi. Kalo ga salah, rumah Opa dibuat sekitar tahun 1930-an, waktu Opanya Bokap (Puang Pananrang) masih hidup.

Walau lebih modern dan lebih dekat dari Makassar, gue lebih berasa pulang ke kampung ke Soppeng dibanding dengan ke Toraja. Mungkin karena gue baru ke sini lagi, beda dengan Toraja yang bahkan gue baru aja ke sana dua kali dalam 1 bulan. Di rumah Opa, gue excited karena bisa ngambil cabe rawit dan sayur kelor dari pekarangan rumah dengan jumlah yang cukup banyak. Bukan Cuma itu, kami pun membawa pulang kacang panjang dan terong hijau yang dipetik langsung dari pematang sawah kami. Sayurnya segar dan sensasi metiknya itu loh, hehe.

Gue baru 2 hari di Soppeng buat ngeliat panen sawah yang jika Tuhan mengizinkan, masih akan berlangsung hingga minggu depan. Besok, Bokap dan Joy bakal datang dan gue senang karena bakal ada orang yang ngeramein rumah di sini, hehe. Dua hal yang ‘sesuatu banget’ di sini Cuma nyamuk yang garang, ganas, dan agresif, serta cuaca panas-hujan di tengah sawah yang bikin kepala gue sampai sekarnag masih cenat-cenut.

Over all, I loves this vacation. The real vacation with happiness of harvest😀

#Day3 – #Day5

SAKIT! Pulang ke Makassa, kacau, LOL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s