respek

“Dasar hitam pendek”, seorang cewek mengejek seorang teman di sebuah meja di kantin sekolah.

“Jangan nyela orang kaya gitu, tega banget,” gue membela.

“Haha, napa lu yang sibuk? Orangnya aja ga marah, hahaha” kata seorang-cewek-yang-merasa-udah-jadi-puteri-sejagat ke teman segengnya yang-juga-merasa-cewek-populer-tingkat-sekolah.

Gue diam menyusuli teman yang diejek yang sudah diam dari awal.

Gue ga tau apa penyebab anak-anak di geng gaul SMP gue merasa paling jago dan suka membully orang. Sebenarnya, jika ditelusuri baik-baik, tidak ada perbedaan status sosial yang begitu mencolok di sekolah gue karena SMP tersebut adalah sekolah negeri. Semua ke sekolah menggunakan seragam sederhana yang sama. Bedanya, ada yang naik mobil, ada yang naik motor, dan ada yang naik angkot (termasuk gue, ngahahaha). Cuma, tak bisa dimungkiri bahwa pergaulan anak ABG sangat memengaruhi cara berpikir dan perilakunya. Jika seorang siswa sudah terbiasa diberi kekuasaan dan sesuatu yang membuat dia merasa berstatus lebih tinggi daripada yang lain, maka sedikit atau banyak, dia juga akan mengaplikasikannya di dalam pergaulan sekolah.

Jujur saja, kalo gue mandang netral, si ‘pencela’ ga cantik. Biasa aja. Tinggi semampai juga nggak. Dan gue ga tau kenapa dia dan gengnya suka ngebully. Gue pun pernah jadi korban bully mereka tapi karena emang gue rada’ tangguh, gue yang lagi sendiri waktu teman-teman udah pada pulang, mencoba melawan ejekan-sok-oke-mereka. Apalagi, teman-teman gue emang lebih berorientasi pada pelajaran, bukan pada pergaulan. Jadi kami ga biasa meladeni orang-orang kaya begini.

Itu cuma salah satu bentuk bully yang ada di SMP gue. Masih banyak bully yang lebih ke arah fisik daripada psikis. Ada pula yang melakukan kedua hal tersebut. Mengesalkan bukan?

Bully adalah hal tercela. Meskipun baru beberapa tahun terakhir permasalahan bully disorot dan dikecam, hgal ini (bisa saja) masih terjadi. Dan sudah seharusnya orang dewasa turut ambil andil dalam pengajaran kepada anak dan adik tentang perbedaan antara becandaan dan bully. Dan guru, sebagai orang dewasa yang paling sering berinteraksi dengan murid di sekolah lebih peka dalam mengamati pola pergaulan anak didiknya.

Sekitar 9 tahun sudah berlalu. Banyak perbedaan antara anak yang dulu suka membully dan dibully. Anak yang dulu menjadi korban bully dulu sibuk mengukir masa depan dan bagaimana keeksisan masa depan, sehingga sudah banyak yang menjadi dokter, sekolah di luar negeri, dan jadi orang yang menurut gue tergolong hebat untuk seusia gue. Adapun anak yang dulu hobi ngebully saking eksisnya, sekarang udah kurang eksis.

Gue ga bilang gue pahlawan, gue ga bilang gue selalu benar atau gue malaikat. Tapi, menghargai dan ga mengganggu orang lain adalah hal minimal yang lo bisa lakukan, kalo lo ga bisa berbuat baik untuk orang lain.

*salam cinta❤

-Harliati-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s