Standard

c’est la vie

Semua ada waktunya. Hidup ini indah dalam segala kenyataannya, ternyata. Yap, sekali lagi, semua ada waktunya. Malam ini, waktunya aku cari tahu siapa temanku yang paling gendut, yang suka nebeng duduk/tidur di ranjangku dan bikin ranjang bener-bener ambruk. Hayo, ngaku! Siapa? *mungkin pemiliknya sendiri -.- alhasil, harus tidur di kasur beralas lantai. Ini sudah waktunya ranjang ambruk, bukan salah penggunanya (hehe). Ya ga apa-apa juga sih, asikan gini, cuma kamarku jadi sempit banget.

Pengkhotbah 3 bilang “Untuk segala sesuatu ada waktunya.” Aku sukaaaa banget sama pasal ini. Betapa hebat. Ayat “(4) ada waktunya untuk menangis, ada waktunya untuk tertawa; ada waktunya untuk merapat; ada waktunya untuk menari.” Perihal mencari-membiarkan rugi, menyimpan-membuang, berdiam diri-berbicara, semuanya ada. Hingga di ayat “(11A) Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.” Dan pada “(11B) tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

Lalu kenapa kubilang pasal ini hebat? Pasal ini mengajarkan manusia tentang dinamika kehidupan. Bahwa roda kehidupan berputar, ada saatnya bersuka, ada saatnya berduka. Tak mungkin manusia hidup bersuka-suka terus atau berduka-duka terus. Duka mengingatkan manusia untuk tetap sadar diri pada saat suka, sedangkan suka mengingatkan manusia untuk tidak putus harap pada saat duka. Pasal ini mengajar manusia untuk tidak serakah dengan menggunakan pembenaran/definisinya sendiri untuk itu. Bahwa manusia harus mengingat sesama untuk berbagi dan tidak menimbun berkat untuk diri sendiri. Bahwa manusia harus berusaha dan berserah pada Tuhan.

Aku sedang berada di masa menikmati dinamika kehidupan. Tinggi-rendahnya, baik-buruknya, mengejar-bersabar, mengasihi-bertanggung jawab, hak-kewajiban, dan mempelajari kemampuan yang setelah itu harus diaplikasikan. Betapa indah hidup ini dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan diri, ruang, dan waktu. Terutama saat aku diajarkan bahwa tidak semua hal terjadi sesuai dengan yang dikira dan diinginkan. Contoh kecil : ternyata rasanya diet seperti ini ya. Beauty is pain. Walau kata temanku, “jangan berani bilang beauty is pain kalo lo belum ngerasain waxing” BWKWKWKWK. Kegagalan presentasi pun sebenarnya hal yang biasa. Tertundanya proyek juga ga apa-apa, hal yang biasa. Kembali lagi pada konsep, semua ada waktunya. Bahkan, petani pun tahu, untuk memanen padi ada waktu dan prosesnya. Hemmm, betapa indah🙂

YESUS, jawaban semua pertanyaan. Cukup.

*Lusa, rencana Hayul, kakakku akan ke Jakarta buat tes TOEFL, mungkin cukup lama di sini jadi bisa jalan-jalan gratis (yihaaa). Sepertinya harus cari tempat tepat. Di mana di mana di mana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s