Resensi dan Catatan Sendalu Karya Chavchay Syaifullah (18+ tahun)

Pencantuman sumber tulisan dan nama penulis adalah tanda penghargaan atas hak kekayaan intelektual🙂

____________________________________________________________________________________________

 

pas gue Googling untuk cari gambar novel ini, gue baru nyadar kalo pembahasan tentang novel ini sudah lumayan banyak.

novel yang gue pinjam dari Perpustakaan FIB ini sendiri cukup mudah untuk dibaca, artinya gue gak perlu merasa kesulitan dalam mencerna apa yang dimaksud dan tujuan penulisan novel ini. diksi yang digunakan sesuai dengan orang yang tidak begitu pandai berkata dalam sastra, seperti gue.

Lumang, seorang pemuda berusia 20 tahun hidup di keluarga kecil yang sederhana, bersama ayah dan ibunya. ia tak punya kakak dan adik. seharusnya dia punya, tapi gugur dalam kandungan. ini yang membuatnya dijuluki sebagai anak terapit bangkai. sejak kecil memiliki tiga kebiasaan. pertama, kebiasaannya menerima cemooh dari teman-teman sekolah, sebab Lumang hanyalah anak dari seorang tukang cukur murahan. kedua, ia terbiasa menikmati dunianya sendiri, sebab ia tak punya teman atau saudara. ia menjalaninya dengan tabah dan tetap menjadi anak yang penurut pada ibunya, yang selalu mengandalkan dia dalam hal membuat sambal untuk dipakai makan. ketiga, ia terbiasa menahan derita, derita yang diciptakan oleh suara senggama yang dilakukan kedua orang tuanya. desahan nikmat ayahnya dan rintihan ibunya membayang-bayanginya dan membuat ‘neraka’ dalam imajinya. tidak terbatas pada suara saja, tembok pemisah kamar orang tua dan Lumang yang hanya tripleks membuat Lumang serba salah saat mendapati gambar pesetubuhan orang tuanya dari lubang kecil di tembok pemisah kamar mereka.

saat pindah ke kontrakan barunya, situasi yang harus dihadapi Lumang semakin menyiksanya. bayangkan saja, di petak rumah itu hanya ada dua pintu. pintu masuk petak dan pintu kamar mandi. tidak ada pembatas mutlak dari kamar orang tua dengan kamar Lumang yang sebenarnya adalah ruang tamu. suara-suara yang seharusnya orang tuanya tidak perdengarkan kepada anaknya yang beranjak dewasa ini bukan lagi menjadi tamparan, tapi telah menjadi bantingan dan cabikan yang menjadi hukuman tak beralasan untuk Lumang. ditambah lagi oleh suara tetangga di petak sebelah, Lastri dan Burhan, pasangan suami-istri yang masih muda. hampir setiap malam kedua pasang ini saling bertantang suara yang dengan bangganya mereka buat lebih nyaring dari yang seharusnya. kata ibu Lumang, persaingan suara dari pasangan lain dapat membuat pasangan lain semakin bergairah dalam berhubungan suami-istri.

jangankan suara orang tuanya, suara desahan Lastri dan Burhan saja sudah menjadi hukuman tak berkesudahan untuknya. Lastri, perempuan cantik yang begitu menarik walau lebih tua beberapa tahun dari Burhan telah membuat lelaki pengangguran ini menyukainya sejak pertama melihat. semakin lama, semakin berharaplah Lumang dalam khayalannya agar ia bisa mengawini Lastri dan memberinya banyak anak dari benih-benih suburnya, tidak sama dengan Burhan yang sepertinya tidak subur. padahal kelihatannya Lastri begitu merindukan kehadiran buah hati. Lumang ingin memberinya benih yang banyak agar Lastri bahagia karena bisa hamil. tapi sekali lagi, itu hanya ada dalam khayalan liar Si Lumang, hingga akhirnya batas kesabaran tak lagi dapat dicapai Lumang, ia lari dari rumah dengan rasa pecundang yang ia miliki, ia takut pada kenyataan bahwa ia tak memiliki siapa-siapa untuk berbagi, ia pengangguran, dan tak ada yang mengerti dirinya.

beberapa lama Lumang pergi entah ke mana, ia baru sadar akan kepecundangan yang melumpuhkannya. ia pulang menuntut pembalasan kepada Lastri, dengan memperkosa perempuan lemah yang tak dapat melakukan hal lain selain memberikan hal yang diinginkan Lumang saat suaminya tak di rumah. dengan rasa nikmat yang baru lepas dari ‘parang dagingnya’, ia menuntut pembalasan lagi, kali ini pada ibunya. ibu yang menyadari kepulangan anaknya memeluk anak dengan penuh rindu kasih sayang. buah dada ibu yang mengenai kepala Lumang yang pura-pura tidur memancingnya untuk merasakan rasa-rasa nikmat yang dirasakan ayahnya. ia ingin tahu apa yang dirasakan dan dibanggakan ayahnya selama ini. penuh kedurhakaan anak, ia memerkosa ibunya yang sangat mencintai anak kurang ajar ini. setelah itu, muncul niat yang melebihi niat setan-setan terkutuk, Lumang memaksa Lastri yang masih dengan lemahnya di petak sebelah untuk bersebelahan dengan ibunya, dan menyetubuhi mereka bergantian. ia ingin membandingankan kenikmatan tubuh dan lubang Lastri dan ibunya. di atas niat setan, ia masih ingin mempertontonkan pemerkosaan dua perempuan itu pada pasangan mereka masing-masing. ia menunggu kedua lelaki pasangan Lastri dan ibunya pulang ke rumah, membuat pingsan, dan mengikat lalu mempertontonkan adegan nista itu pada kedua lelaki itu sebelum ia lari dengan tertawa bahagia atas kemenangannya.

bertahun-tahun dalam pelariannya, Lumang melebihi binatang, setan, sehingga belum ada kata dalam bahasa manusia yang bisa diberikan atas kebiadabannya. memerkosa ibu-ibu paruh baya, nenek-nenek, anak perawan, anak kecil, hingga sesama jenis, hingga lubang di belakang dirasakan lebih nikmat daripada lubang yang ada di depan.

berbagai cara Lumang lakukan, tak ada yang bisa menebak apa yang ia pikirkan dan seberapa hinanya ia. memperkosa siapa saja yang ia lihat sudah menjadi kebutuhan mutlaknya sebagai ‘sesuatu yang mungkin masih bisa dianggap sebagai manusia’. hingga angka-angka jumlah korbannya sangat banyak dan membuat kasus pemerkosaan ada sebagai berita pokok di koran-koran selama bertahun-tahun. aparat dengan mudahnya menyebutkan bahwa pemerkosaan itu dilakukan oleh gerombolan pemerkosa yang sudah terlatih, dan Jakarta menjadi kota yang ada di bawah ancaman pemerkosaan.

pada akhirnya, segala sesuatunya ada batasnya. langit dan bumi tak lagi ada Lumang. tak ada lagi korban yang bisa dipakai Lumang, hingga pada akhirnya, Bono, bocah yang sudah menjadi keluarga baru Lumang, di bawah Tugu Pancoran, teman sehari-harinya menggembel, harus dia sodomi, dan seketika itu juga bocah itu meninggal. untuk pertama kalinya Lumang menangis dan merasa penyesalan. ia menangis dan menggendong Bono untuk dibuang di Kali Ciliwung. kematian Bono mengubah hidup Lumang, Dewa Iblis.

dua minggu kemudian, di Jakarta terjadi kerusuhan besar dengan kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran rumah, kendaraan, yang ternyata dilakukan sekelompok besar orang biadab yang memerkosa perempuan-perempuan berdarah Cina yang akhirnya mengguncang pikiran dan hati manusia biadab ini, Lumang.

pada akhirnya Lumang memotong ‘parang dagingnya’ dan menyerah pada langit dan bumi. ia dibawa ke rumah sakit, dan akhirnya bertemu dengan ayah dan ibunya, memohon maaf pada orang tuanya, para korbannya, media massa, aparat, pemerintah, dan semua orang.  sebelum mati, Lumang menulis pesan terakhirnya…

“wahai kau yang senang memperkosa anak manusia, becrerminlah! perbuatanmu telah menghancurkan kehidupan manusia seluruhnya. ingatlah, korban-korbanmu adalah manusia, sama sepertimu. hentikanlah aksi biadabmu! bercerminlah! pandanglah dirimu baik-baik!”

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s