Sinetron Realis yang Menjadi Refleksi

Pencantuman sumber tulisan dan nama penulis adalah tanda penghargaan atas hak kekayaan intelektual :)____________________________________________________________________________________________

 

Tugas XI

Harliati / 0806353545

PSA / II / 2009-2010

6 April 2010

 

SINETRON REALIS YANG MENJADI REFLEKSI


Salah satu sinetron yang memiliki jam tayang tinggi adalah Suami-Suami Takut Istri, yaitu setiap hari Senin-Jumat, dengan durasi 60 menit. Jika dibandingkan dengan sinetron lain yang memiliki kesamaan, yaitu menghadirkan anak-anak dan orang dewasa sebagai pemeran dalam cerita, sinetron yang tayang setiap pukul 18.00 WIB ini memiliki jam tayang 6×60 menit setiap minggunya. Bandingkan saja dengan sinetron Momon yang hanya tayang sebanyak 2×60 menit setiap minggunya.

Latar cerita dalam Suami-Suami Takut Istri adalah kehidupan bertetangga di sebuah daerah pemukiman, di mana masyarakatnya berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Jika dibahas lebih lanjut, tentu saja cerita dalam sinetron ini memiliki unsur realis yang cukup tinggi dan dikemas dalam genre sitkom. Hal yang menjadi komedi dari sinetron ini adalah kecenderungan istri-istri yang mendominasi suami mereka. Tokoh dalam sinetron ini adalah Pak RT, Bu RT, Sarmilila, Karyo, Sheila, Tigor, Welas, Faisal, Deswita, Mang Dadang, Pretty, Garry, dan beberapa anak-anak yang intensitas munculnya tidak begitu tinggi.

Dalam kehidupan berumah-tangga, tokoh suami-suami yang ada dalam cerita takut dan tunduk di bawah perintah istri-istri mereka, sehingga terjadi hal-hal yang dianggap berbeda dari kenyataan umum dalam masyarakat, di mana suami adalah kepala keluarga yang dihormati, penuh wibawa, dan memiliki bertanggung jawab justru tidak begitu dihargai oleh istri mereka masing-masing.

Selain itu, istri-istri dalam sinetron ini tidak menurut dan menghormati suami mereka. Mereka menganggap diri mereka memiliki kekuasaan di atas suami mereka yang pandang remeh dan tidak bertanggung jawab pada kewajiban suami mereka, misalnya untuk setia dan menafkahi dengan cukup. Kedua hal inilah yang menciptakan alur cerita dan konflik dalam sinetron ini, yaitu persatuan yang diciptakan oleh bapak-bapak. Mereka membuat perkumpulan di mana sering melakukan rapat dan memberikan gagasan, bagaimana agar istri mereka tidak menindas dan percaya oleh mereka sekali pun itu adalah niat yang tidak baik, misalnya mereka bekerja sama untuk mengelabui istri mereka saat ingin menggoda janda di kompleks. Hal yang sama juga terjadi pada para istri yang membuat persatuan istri agar mereka dapat berkuasa atas suami-suami mereka, dan mereka lebih sering menang jika dibandingkan suami-suami.

Hal lain yang juga menjadi konflik adalah anak-anak mereka yang sering berbuat hal yang tidak baik, seperti membuat temannya menangis, menuduh ayah mereka berbuat kesalahan, atau tidak menurut kepada ibu mereka. Beberapa fenomena dalam kehidupan rumah tangga ini tentu saja terjadi bukan merupakan hal yang aneh, karena dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di lingkungan kita. Ini merupakan hal yang wajar dan dapat terjadi dalam keluarga atau lingkungan pemukiman.

Penggambaran latar tempat dan penokohan adalah di perkotaan dengan konflik-konflik sederhana yang sebenarnya dapat dicari penyelesaiannya dengan baik membuat sinetron ini masih bertahan dalam 3 tahun terakhir dan jam tayang tidak berkurang. Dengan permasalahan sederhana yang diangkat, dapat menyinggung kehidupan sehari-hari penonton, menjadi refleksi, dan memperbaiki hubungan dengan keluarga agar tidak seperti itu. Akan tetapi, hal yang wajar dan menjadi lelucon bagi pemirsa yang menyaksikannya belum tentu menjadi hal yang baik, di mana tidak memberi contoh dan teladan bagi masyarakat, dalam hal ini anak kecil yang seharusnya mendapatkan bimbingan dan pembelajaran dari orang tua masing-masing. Begitu pula dengan anak-anak yang bermain dalam sinetron ini. Sebaiknya, para orang tua mereka tetap mengajarkan kepada mereka bahwa hal yang mereka contohkan tidak selamanya baik dan ditiru dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dampak negatif dari penayangan sinetron berunsur realis ini dapat dikurangi.

 

Sumber Data :

Pencantuman sumber tulisan dan nama penulis adalah tanda penghargaan atas hak kekayaan intelektual🙂
___________________________________________________________________________________________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s