Sahabat dan Harta

Nama   :  Harliati

NPM   :  0806353545

Program Studi Indonesia

Judul Asli : Si Lumpuh dan Si Buta, Karya Zainuddin Hakim

SAHABAT DAN HARTA

Di sebuah kota kecil ada sepasang sahabat, yang satu lumpuh dan satunya lagi buta. Mereka adalah pengemis yang tiap hari mengemis bersama, si Buta yang membantu si Lumpuh jalan dan si Lumpuh yang menjadi penunjuk jalan. Karena pemasukan mereka yang semakin menipis, mereka mau mengemis pada orang-orang kaya, karena mereka pasti dermawan.

Terik sinar matahari terasa menyengat siang itu, membuat tubuh keduanya dipenuhi peluh dan bau agak asam. Sedari tadi mereka menadahkan tangan mereka, namun tak ada satu pun orang kaya yang menyambut kedatangan mereka dengan sedekah, bahkan diusir dan ditutupkan pintu. Si Buta teringat lagi perkataan partner mengemisnya itu kemarin, “sebaiknya kita tidak hanya duduk menunggu sepanjang hari di pinggir jalan. Bagaimana kalau kita pergi mengunjungi rumah orang-orang kaya meminta sedekahnya? kurasa mereka lebih baik.” Namun, kenyataannya malah terbalik, lebih banyak orang miskin yang dermawan dan pengasih.

Di tengah perasaan sakit hatinya, mereka teringat sebuah cerita bahwa di puncak gunung selatan, ada sebuah gua yang di dalamnya banyak perhiasan dan barang-barang yang terbuat dari emas, namun hingga saat itu tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena takut pada penghuni gua, yang tak lain adalah seorang raksasa putih pemakan orang.

“Bagaimana pendapatmu, Lumpuh, jika kita pergi mengadukan jiwa kita di sana? Penderitaan mana lagi yang lebih besar daripada diusir dan ditutupkan pintu saat kita menadahkan tangan?” ternyata perasaan sakit hati mengalahkan ketakutan mereka pada makhluk menakutkan itu.

Berkatalah si Buta, “mari kita mencoba dan pasrah pada Tuhan untuk mencapai cita-cita kita. Namun jika ada rezeki dari Tuhan, bagaimana cara kita membaginya?”

“Engkau dua dan saya satu bagian saja karena engkau yang menggendong, tapi kamu harus berhati-hati jangan sampai kita tersesat dan terlalu jauh.” Jawab si Lumpuh.

Akhirnya mereka hendak mencoba membuktikan cerita itu dengan harapan diberkati oleh Tuhan dan raksasa putih itu dapat mereka usir. Sepanjang perjalanan sangat banyak rintangan yang mereka lalui seperti ular kobra besar, ular sawah sebesar pohon kelapa, sungai berbuaya, dan kerbau liar. Selama sebulan melakukan perjalanan, tibalah mereka di puncak gunung.

Melihat mereka, si raksasa putih terkejut karena ada orang aneh yang datang, berkepala dua, tangannya empat, kaki empat, mata dan telinganya juga ada empat. Saat dua sahabat itu memberi salam, terdengar suara guntur dan kilat yang dahsyat dan sambung-menyambung, membuat raksasa ketakutan dan lari tunggang langgang, lalu jatuh ke dalam jurang. Bergembiralah si Lumpuh dan si Buta, dan bersyukur pada Tuhan karena mendapat curahan rahmat untuk kehidupan mereka berdua. Dimasukinya gua itu dan mereka mendapati banyak emas dan  beraneka ragam.

Si Lumpuh berkata “Mari kita membawa emas-emas ini semampu kita saja.”

“Kita kumpulkan saja yang paling mahal harganya untuk dibawa pulang. Akan tetapi, mari kita bicarakan kembali perjanjian kita.” Kata si Buta.

“Sesuai perjanjian kita dulu, yang menggendong mendapatkan dua bagian dan yang digendong mendapat satu bagian.”

Kata si Buta, “baiklah, itulah yang kita pegang.”

Lalu pulanglah mereka ke kampungnya, dan tidak cukup sebulan perjalanan mereka, tibalah mereka dengan selamat. Mereka langsung ke rumah si Lumpuh untuk membagi barang mereka. Si Lumpuh berkata, “siapkanlah pembungkus, Buta, kita akan membagi barang itu sekarang. Dengarlah baik-baik, sahabat! Ini bagian untuk yang menggendong, ini juga, ini bagian untuk yang digendong, dan ini bagian yang membagi.”

“Tunggu dulu sahabat. Perjanjian kita dulu tidak seperti itu. Mengapa ada bagiannya yang membagi? Sadarlah sahabat! Jangan engkau terpengaruh dengan emas. Memang mataku buta, tapi ingatanku seterang matahari.” Mereka terdiam beberapa saat dan si Buta melanjutkan perkataannya, “bagilah barang-barang ini dengan adil sesuai perjanjian kita. Jika engkau curang, biji matamu akan kucungkil, biar kamu rasakan bagaimana pedihnya kalau kita tidak bisa melihat.”

Si Lumpuh ketakutan dan tubuhnya gemetaran. Ia meminta maaf pada si Buta, lalu harta itu dibagi secara adil, sesuai kesepakatan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s