Mengartikan Nyanyian Arifin dalam Antologi Puisi Nyanyian Sunyi oleh Arifin C Noer

UNIVERSITAS INDONESIA

Mengartikan Nyanyian Arifin

dalam Antologi Puisi Nyanyian Sunyi oleh Arifin C Noer

Makalah yang Dibuat

untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Pengkajian Puisi

oleh :

Harliati

0806353545

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

DEPOK

JUNI, 2010

BAB  I


PENDAHULUAN

Selain memiliki fungsi menghibur, sastra juga memiliki fungsi bermanfaat bagi pembacanya yang dikenal dengan dulce et utile. Sastra menghibur dengan cara menyajikan keindahan, memberikan makna terhadap kehidupan (kematian, kesengsaraan, maupun kegembiraan). Salah satu karya sastra itu adalah puisi.

Secara etimologi kata puisi berasal dari bahasa Yunani Kuno ποιέω/ποι (poiéo/poió) atau I create, yaitu seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Puisi terbagi atas puisi lama dan puisi baru, yang tidak terikat lagi dengan aturan-aturan puisi. Tipografi puisi pun dapat berbentuk apa saja, misalnya zigzag, rata kiri, rata kanan, rata tengah, melingkar, kotak, atau bentuk lainnya yang berantakan. Puisi terkadang hanya berisi satu kata yang terus diulang, tidak menggunakan tanda baca, tidak menggunakan huruf kapital, atau bentuk lainnya. Isi puisi pun kadang memiliki keanehan, menyimpan misteri, menceritakan kisah (ballada), atau hanya sekadar menyampaikan tujuan puisi tanpa mempedulikan bentuk yang digunakan dalam penyampaian puisi.

Menurut KBBI, puisi adalah ragam sastra yg bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; gubahan dl bahasa yg bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; sajak.

Puisi adalah bahasa penyair dalam mengucapkan seninya. Dengan seperti bahasa apa pun juga, puisi baru dapat dimengerti, diresapi, dan dinikmati setelah orang mempelajari khazanah kata, idiomatik, nahu serta lain-lainnya. Dalam mengartikan puisi, diperlukan semacam tafsiran atau penutup terhadap tafsiran akan puisi buah tangan para penyair. Oleh karena itu, Nyanyian Sepi berusaha untuk ditafsirkan dalam makalah ini.

Nyanyian Sepi karya Arifin C Noer ini merupakan antologi yang berisi puisi-puisi yang menggambarkan kesedihan, kesunyian, kehampaan, dan kegundahan aku lirik sebagai anak kecil, remaja, lelaki dewasa, dan seorang anak ibu. Walaupun demikian, pada beberapa puisi yang menggambarkan kesedihan dan kehampaan, ada pula kata-kata bersyukur, menyembah Sang Pencipta.

Arifin C Noer lahir di Cirebon, 10 Maret 1941. Ia mulai menulis sajak dan lakon sejak remaja, ketika ia bersekolah di SMP Muhammadiyah dan aktif nongkrong di RRI Cirebon. Kelas II SMP ia memenangkan juara kedua dalam perlombaan nyanyi seriosa di RRI.

Sewaktu SD, ia membuat pertunjukan wayang kecil-kecilan dengan kakak dan kawan-kawannya. Bakat berlakon sampai SMA di Jamsaren dan kuliah di Universitas Cokroaminoto, Solo, dengan bergabung dalam grup Teater Muslim pimpinan Muhammad Diponegoro di Yogya. Dari Universitas Cokroaminoto, Solo, ia lulus sarjana Administrasi Negara dan ditawari jabatan di kantor kecamatan di Cirebon, tetapi ia memilih hijrah ke ibu kota dan mendirikan grupnya sendiri, Teater Ketcil (1968), dan bekerja di Taman Ismail Marzuki di bagian kehumasan.

Dalam Pengantar Sangat Ringkas dalam antologi puisi ini, Sapardi Djoko Damono mengatakan bahwa ‘maut telah menyebabkan si aku menyadari bahwa ada saatnya bahkan seseorang ibu harus mengarahkan pandangannya tidak lagi kepada anaknya, tetapi kepada-Nya. Manusia hanya bisa mengajukan pertanyaan pun mendengarkan dengan baik ketika Tuhan berkata kepadanya, “Arifin, pulanglah|ibumu ada di rumah”. Kematian ibu telah menciptakan suasana religius; si aku menerima kekuasaan-Nya, dan ibu dibayangkannya menyebut-nyebut nama-Nya.

Ibu adalah sosok pertama yang ditemui seorang bayi yang baru dan dikenal manusia saat berada di bumi. Ibu pula sosok yang paling berpotensi menjalin hubungan yang terdekat dengan anaknya, bahkan saat anak masih dalam kandungan. Setiap sentuhan ibu akan sangat berarti untuk anaknya. Ini pun yang dirasakan Arifin C Noer, bahwa hubungannya sangat intim dengan ibunya. Dia sangat menyanyangi dan menghargai sosok ibu yang mendarah-daging dalam dirinya. Di dalam raga seorang anak, darah yang mengalir juga adalah darah ibunya, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa hidup seorang anak tidak dapat dipisahkan dari hidup ibunya. Ibu jugalah yang memberikan pendidikan kepada anaknya, mengajarkan anaknya dengan ilmu-ilmu kehidupan, perasaan, dan mengarahkan anaknya menjadi anak yang baik. Tidak heran jika selain ayah, ibulah yang bertanggung jawab dengan perkembangan anaknya.

Pada saat ibu Arifin meninggal dunia, tentu saja itu menjadi sebuah pukulan bagi Arifin. Kesedihan karena berpisah dengan sosok yang dijunjung tinggi dan salah satu hal yang terpenting dalam hidupnya.

Kehampaan, kesunyian, dan konflik perasaan yang dirasakan Arifin juga tertuang dalam sajak-sajak tentang kehidupan luas, yaitu hal yang paling jauh seperti sajak tentang penguasa, hingga hal yang paling dekat seperti diri manusia itu sendiri, yang pasti dirasakan oleh semua orang.

PEMBAHASAN

Sajak pertama

MAKAM

haruskah aku mengucap: Selamat datang

padahal kita tak pernah berpisah

haruskah aku mengucap: Selamat tinggal

padahal kita tak pernah berpisah

bukankah kelebihan insan ialah jiwa ya bapa

yang bermukim di bawah pusaran angin peristiwa

sahdu di dalam semedi pengembaraan

tak pernah lupa pada siapa saja

haruskah aku memeluk makam yang kosong

padahal jiwa tak pernah berbohong

haruskah aku menyebut namamu ya bapa

padahal jiwa tak pernah lupa?

15 Juni 1961

Judul sajak ini adalah makam, tempat peristirahatan terakhir yang biasa juga disebut kuburan. Tempat raga seseorang yang telah meninggal ditaruh untuk bersatu dengan tanah. Makam dapat melambangkan kematian dan kesedihan karena kematian itu yang dirasakan oleh orang yang ditinggalkan oleh orang yang telah meninggal.

Sajak ini terdiri atas 3 bait yang masing-masing baitnya tersusun oleh 4 larik. Tidak ada tanda titik (.) dalam sajak ini, sehingga tidak ada penggunaan huruf kapital selain kata ‘selamat’ yang ada pada larik pertama dan ketiga dalam bait pertama. Setelah tanda (:), huruf ‘s’ dalam ‘selamat’ ditulis dengan huruf kapital, menekankan ‘selamat datang’ dan ‘selamat tinggal’ adalah kalimat langsung atau ujaran. Tidak ada keselarasan rima dalam sajak ini.

Tanda tanya (?) pada akhir larik terakhir seakan tidak mengakhiri sajak, namun pada larik-larik pertanyaan sebelumnya tidak ditutup dengan tanda tanya (?).Namun, jika kekonsistenan penggunaan tanda tanya (?) diterapkan pada setiap larik yang menunjukkan pertanyaan, akan ada 5 tanda tanya (?) dalam keseluruhan sajak ini. Hal ini seakan menandakan permulaan sajak yang sebenarnya ingin bertanya atas kesangsian aku lirik dan sepenuhnya isi larik ini adalah pertanyaan yang ditujukan untuk bapa.

Pada bait pertama aku lirik menunjukkan dilema yang dihadapinya. Dilema antara ada dan tiada, dilema antara yang ada dan yang sebenarnya tidak ada. Sebanyak dua kali aku lirik menyatakan ‘padahal kita tak pernah berpisah’, ia ingin membenarkan pernyataannya sendiri dan meminta persetujuan bapa bahwa apa yang dinyatakan oleh aku lirik adalah benar adanya. Aku lirik mengalami dilema karena ketidakinginannya untuk berpisah dengan seseorang yang ada di dalam makam yang sedang dihadapinya itu. Dilema yang ditunjukkan juga adalah keharusannya untuk percaya bahwa ia dengan sosok yang ada dalam makam memang berpisah dengannya, atau dia harus percaya bahwa ia tidak berpisah dengan sosok yang ada dalam makam.

Bapa yang ditanya oleh aku lirik dapat berarti ayah aku lirik, atau Bapa yaitu Tuhan, sebagai Sosok yang berkuasa dan mengetahui segala peristiwa dan satu-satunya Sosok yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan aku lirik tentang peran jiwa dalam insan tiap manusia.

Aku lirik menuliskan jiwa bermukim di bawah pusaran angin peristiwa. Angin tidak terlihat, hanya dapat dirasakan. Angin membawa kesejukan, namun dapat membuat dingin hingga dingin yang memilukan, dapat membuat bulu kuduk berdiri, menggigil, rasa tidak nyaman, tersiksa. Angin dapat datang dan pergi, berganti dengan yang lebih hebat kapan saja, tidak akan tinggal dan tak dapat dikenang. Ia bermaksud menyatakan bahwa jiwa seseorang akan berubah-ubah seiring peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup orang itu. Hal ini yang akan membentuk jiwa seseorang maju menjadi lebih baik, mundur menjadi lebih buruk, atau berubah-ubah tetapi tidak menjadi lebih baik atau lebih buruk. Pusaran yang ada dalam sajak ini adalah pusat putaran angin. Di tengahnya tidak begitu terasa tetapi sangat memengaruhi sekelilingnya. Jelas sekali bahwa aku lirik menunjukkan kesangsiannya terhadap hidup dan mendramatisir rasa dilema yang singgah dalam pikirannya.

Pengembaraan pada larik ketujuh melambangkan pencarian jati diri, tujuan hidup, tempat, orang-orang yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan hal yang lebih baik dan sesuai dengannya, dan jalan yang harus dilalui itu sama sekali tidak diketahui oleh siapa pun. Semua manusia harus melewati permasalahan yang berbeda-beda di tempat dan orang-orang yang berbeda pula. Akan selalu ada yang ditemui, dan sebaliknya, ada yang harus ditinggalkan dan dibiarkan untuk pergi.

Pada larik kesembilan, aku bertanya pada bapa, apakah dia harus memeluk makam yang kosong. Aku lirik menunjukkan kesedihannya, namun ia masih ingin menyangkal dengan mengatakan bahwa makam yang ada di hadapannya itu kosong, tidak ada sosok yang disayanginya yang harus ia ratapi. Aku lirik tidak akan melupakan Sang Pencipta yang berkuasa atas kehidupannya dan orang mungkin ada atau tidak ada dalam makam yang ada di hadapannya itu.

Sajak kedua

SEGALA RAJA DI DUNIA

Segala raja di dunia akan turun tahta

Tanpa kecuali; apa pula yang bernama tirani

Lantaran titah sejarah selalu menegur kita

Agar ukuran singgasana berdasar ukuran manusia

Semakin tinggi kita duduk, semakin jauh kita dengan bumi

(Hukum besi yang tak bisa dipungkiri!)

Ada pun yang paling ngeri pabila tiba rasa asing pada diri sendiri

maka tertib pun sirnalah, karna fitrah insan kita ganti

dengan ambisi, sesuatu yang menjunjung kita dengan tamasya

lapisan mega

sesuatu yang tanpa kita insyafi, juga akan membuat kubur bagi

kita

sesuatu yang tanpa kita insyafi, menggerakkan semangat

sukma, yang bersikeras menamatkan cerita kita

Creon, Caligula, Nero, Macbeth, Hitler ….. barisan nama-nama

yang tak pernah ada ujungnya selama sejarah kita. Kian lama

kian sempurnalah sejarah berkata dan mengajar kita

Kian teranglah cahaya yang dibangunnya untuk menunjukkan

kita yang sebenarnya.

Segala raja di dunia akan turun tahta

tanpa kecuali, apa pula yang bernama tirani

Dan selalu saja Tuhan memberikan kita keleluasaan

untuk menumpasnya sendiri!

1966

Sajak ini terdiri atas 4 bait dengan jumlah larik sebanyak 23 larik. Ada bait yang berima, namun ada pula yang tidak berima, dengan susunan ______ ABAA AABBBAAA AAAA ABDB. Dalam sajak ini, tanda baca yang digunakan adalah titik (.) , koma (,) , dan tanda titik koma (;). Penggunaan huruf kapital tidak konsisten. Ada huruf kapital yang muncul setelah tanda titik (.), namun ada pula huruf kapital yang muncul tanpa didahului tanda titik (.) sebelumnya. Sama halnya dengan tipografi sajak ini juga acak dan tidak beraturan. Ini menunjukkan bentuk sajak tidak menjadi masalah.

Pada bait pertama, hal yang paling awal dibicarakan adalah persoalan raja yang ada di dunia tanpa terkecuali, bahwa mereka akan turun tahta, walaupun mereka yang memiliki kekuasaan dan telah terbiasa bertindak sewenang-wenang. Aku lirik menunjukkan keberanian, menuntut raja untuk turun tahta tanpa protes.

Pada baitu kedua, aku lirik mengungkapkan perasaannya yang menyebabkan ia mengeluarkan perintahnya yang ada pada bait pertama.

Penggunaan tanda kurung ( ) pada larik keenam berisi hal tentang hukum kursi, yaitu tentang orang yang memangku jabatan atau penguasa tidak dapat ___ memberikan penjelasan sebagai penekanan tentang sesuatu yang harus dijelaskan, bahwa semakin tinggi kedudukan dan semakin tinggi kekuasaan seseorang, dia akan merasa semakin tinggi jika dibandingkan dengan orang lain, sehingga dia sombong. Namun, seharusnya manusia tidak seperti itu, sebab suatu saat ia harus menapaki bumi lagi, sama seperti manusia yang lain. Aku lirik mengungkapkan bahwa ada saatnya manusia merasa asing dengan dirinya sendiri, dan itu sebuah situasi yang sangat tidak mengenakkan. Kehilangan hati diri dalam beberapa saat dan merasa kosong, merasa pencapaian hidup kurang memuaskan membuat manusia merasa asing dengan dirinya.. Hal yang juga menakutkan adalah rasa asing yang dapat dirasakan siapa saja, saat di mana seseorang tidak dapat menguasai dirinya sendiri, di luar kendali saat ia mengikuti ambisinya. Ambisi seseorang dapat membawa orang itu pada jurang kematian dan membunuhnya, entah yang mati adalah karakter, jiwa, atau raga orang itu.

Macbeth adalah salah satu tokoh ciptaan William Shakespeare yang ambisius, membunuh raja ______ untuk menduduki tahta. Walaupun saling membunuh adalah hal yang biasa, tapi yang dibunuh adalah musuh melainkan membunuh kawan yang mempercayainya. Ia tamak akan kekuasaan, namun mati karena kekuasaan itu sendiri. ___________. Nama-nama itu hingga sekarang masih dikenal manusia, tak lekang oleh waktu. Namun, hal inilah yang mengajarkan manusia tentang ketamakan akan kekuasaan dan tahta yang justru akan membawa manusia menuju kehancuran. Sebaliknya, jika kita belajar dari kesalahan-kesalahan tokoh-tokoh itu, cahaya terang akan menerangi sekeliling manusia.

Pada bait terakhir, larik pertama dan kedua adalah larik yang diulang, sama dengan larik pertama dan kedua pada bait kesatu. Aku lirik menyakinkan pembaca bahwa manusia memiliki kemampuan untuk melawan dan mengalahkan kekuatan jahat yang semena-mena itu, yang kekuatan itu berasal dari Tuhan. Secara tersirat, aku lirik menarik para pembaca untuk menetang kekuasaan dan penguasa yang menindas manusia.

Sajak ketiga

RUMAHKU YANG BIRU

Rumahku jang biru

adakah ibu disitu?

Dipekarangan. Diserambi. Dikamartengah

Dikamarmakan. Di kamar-kamar. Sepi bergantungan

pada lampu2 jang keruh, pigura-pigura yang lusuh

Sepi duduk di kursi. Dimedja makan duka tersuguh

Adik-adikku. Saudara-saudaraku. Para kerabatku

Semua menutup wadjahnja

sedang airmata meleleh di sela-sela jemarinya

Dimana ia? Dimana

Pohon jambu diam saja. Kembang2 pun berahasia

Batang Kelapa kaku saja!

Wahai, dimana ia?

Sebagai protes

Bersujudlah aku

sejuta malam

berputar sekilat

seketika…….

Ya Tuhan, ibu kini tengah menciumi rambutku

secara diam-diam

Betapa harum nafasnya

bunga-bunga mawar bertumbuhan di sajaddah betapa

banyaknya

Ya Tuhan, terimalah abadi sujudku

agar tak lepas-lepas ciuman ibu

14-12-1964

Aku lirik menyebut rumahnya adalah rumah yang biru sebagai judul sajak. Ia merasakan rumahnya sejuk dan luas seperti langit yang biru, nyaman dan lapang baginya, walau mungkin saja tidak mewah. Sajak ini tersusun dari 4 bait, dengan jumlah larik 23.

Penggunaan ‘di’ sebagai kata depan tidak konsisten dan tidak digunakan dengan tepat. ‘di’ sebagai kata depan seharusnya ditulis terpisah dengan kata yang ada di belakangnya tetapi pada sajak ini, ditulis bersambung, seperti pada kata disitu, dipekarangan, diserambi, dikamartengah, dikamarmakan, dimedja, dan dimana. Namun, ada pula ‘di’ yang tepat seperti pada kata di kamar-kamar dan di sajaddah. Beberapa kata pun masih menggunaan ejaan lama seperti ‘jang’ yang seharusnya ‘yang’, ‘medja’ yang seharusnya ‘meja’, serta ‘wadjahnja’ yang seharusnya ‘wajahnya’, tetapi ada ‘yang’ yang ditulis dengan tepat. Ketidakkonsistenan penulisan sajak ini semakin menegaskan bahwa bentuk merupakan hal yang tidak diperhatikan dalam penulisan sajak.

Di bawah judulnya, ada tertulis

Rumahku jang biru

adakah ibu disitu?

Secara langsung, aku lirik bertanya entah kepada siapa, apakah di rumah yang nyaman itu ditempati ibunya? Aku lirik mencari ibunya di seluruh rumahnya, di pekarangan, di serambi, di kamar tengah, di kamar makan, hingga di setiap kamar, tetapi hasil pencariannya nihil. Ini membuat suasana di rumah menjadi hampa, kesepian seakan mencapai lampu-lampu yang berada di tengah dan atas ruangan yang menjadi sentral penerangan. Cahaya keruh yang dihasilkan lampu juga membuat suasana semakin sendu karena sosok yang dicarinya tidak ada. Lampu dan pigura yang tidak sulit ditemukan dalam rumah menjadi saksi diam, menunjukkan seberapa terbayang-bayangnya sosok itu pada aku lirik..

Suasana kesepian itu kontras dengan situasi rumah yang sebenarnya didatangi adik-adik, saudara-saudara, dan para kerabat aku lirik. Seharusnya, banyak orang yang ada di dalam rumah membuat suasana menjadi ramai, bukan sunyi. Hal yang membuat sunyi adalah kenyataan bahwa mereka sedang berduka, di rumah duka, karena seseorang yang dikasihi telah tiada. Semua orang menutup wajah dan air mata meleleh menandakan kesedihan yang dirasakan.

Beberapa kali aku lirik bertanya ‘di mana? di mana?’ ia mencari ibunya dan mempertanyakan di mana keberadaan ibunya, walau ia tahu tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan itu. Mereka, termasuk aku lirik tidak tahu di mana jiwa yang telah pergi itu.

Pada larik 12 dan 13, aku lirik menyatakan bahwa ia protes , sehingga ia bersujud. Bersujud menandakan ia berserah dan merendahkan dirinya di hadapan Sang Pencipta yang dapat menjawab pertanyaan tentang keberadaan jiwa ibunya.

Pada bait kedua, aku lirik berbicara pada Tuhan. Ia menceritakan hal yang dirasakannya, bahwa ibunya sebenarnya ada di dekatnya. Ibunya sedang mencium rambutnya, walau tak kelihatan. Harum nafas ibu menghinggapi indra penciuman aku lirik, walau tidak dengan nyata dapat dirasakan orang lain. Di sini, terlihat bahwa aku lirik menggunakan perasaan dengan sangat peka dan sisi sentimentalnya kuat. Seketika tempat aku lirik terasa wangi, karena sajaddah yang ada di lantai pun ditumbuhi bunga mawar yang wangi.

Pada bait terakhir, aku lirik menyembah Tuhan dan memohon agar Tuhan menerima sujudnya yang abadi, agar ciuman ibu yang sangat dicintainya itu tidak lepas dan tetap dapat dirasakan aku lirik. Secara tersurat, ia percaya pada kuasa Tuhan, bahwa Tuhanlah satu-satunya Sosok yang dapat menyatukan ia dengan ibunya, dan ia menunjukkan itu. Nilai religius dalam sajak ini sangat kuat pada bait ketiga dan keempat. Aku lirik berserah dan mengabadikan penyembahannya sebagai tanda kepercayaannya kepada Tuhan, Sang Pencipta yang juga berkuasa atas ibunya.

PENUTUP

Kesimpulan

Dalam menulis karyanya yang berbentuk sajak, Arifin C Noer merupakan sastrawan yang memperlihatkan emosinya secara langsung atau tersurat. Emosi dan gejolak jiwa yang dirasakan Arifin tidak disembunyi-sembunyikan dengan perumpaan yang terlalu dalam sehingga sulit untuk diinterpretasikan. Namun, ini tidak menghilangkan esensi nyanyian sepi yang ingin ditunjukkan Arifin. Nilai seni justru tampak dalam pemilihan kata (diksi) yang sederhana dalam kumpulan sajak ini.

Arifin dapat menggambarkan kesunyian yang ingin ia sampaikan kepada siapa saja yang membacanya, dan hal yang disampaikan itu dapat tercapai karena penggambaran Arifin yang tulus dan sederhana. Hal-hal yang ada dalam sajak-sajak ini pun bukan hal yang aneh atau asing, melainkan diangkat dari kehidupan sehari-hari, yang mungkin saja dirasakan oleh setiap insan.

Bentuk-bentuk atau cara penulisan sajak-sajak pun tidak perlu dibuat rumit dan menjadi permasalahan yang harus diperhitungkan agar maksud sebuah sajak dapat dicapai. Sebab, dengan menulisnya dengan sederhana pun tidak mengurangi nilai keindahan yang ada dalam sajak-sajak itu, dan Arifin C Noer telah membuktikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Noer, Arifin C. 1995. Nyanyian Sepi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Rosidi, Ajip. 1985. Membicarakan Puisi Indonesia Jakarta : Binacipta

Membaca Sastra

http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi

One thought on “Mengartikan Nyanyian Arifin dalam Antologi Puisi Nyanyian Sunyi oleh Arifin C Noer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s