Makalah Tontonan yang Baik untuk Anak

UNIVERSITAS INDONESIA


Tontonan yang Baik Untuk Anak

Makalah yang Dibuat

untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Sastra Anak

oleh :

Harliati

0806353545

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

DEPOK

MEI, 2010


BAB  I

PENDAHULUAN


Perkembangan teknologi turut mempengaruhi dunia anak melalui tontonan. Tontonan anak bukan hanya tayangan yang setiap hari ditonton dari televisi (TV), tetapi juga berasal dari keluarga, lingkungan pergaulan, bacaan, dan media elektronik yang dijumpai sehari-sehari. Namun, tontonan yang paling sering dijumpai anak-anak adalah tayangan TV.

Berbagai jenis tayangan barupun muncul untuk menarik perhatian penonton, mulai dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak. Berbagai macam cara pun digunakan oleh media untuk menarik perhatian masyakarat untuk memilih tayangan mereka sebagai tontonan pagi hari hingga pagi lagi. Mulai dari acara infotainment, reality show, variety show, sitkom, kuis berhadiah dua milyar, konser bertabur bintang, hingga ajang pencarian bakat. Namun, di antara semua itu, liputan berita berupa tayangan kekerasan yang paling banyak menyita perhatian masyarakat. Tentu saja tayangan ini tidak hanya dikonsumsi oleh orang tua, tetapi juga anak-anak.

BAB II

PEMBAHASAN


Pada tahun 2005, Komisi Nasional Perlindungan Anak melakukan polling yang diikuti oleh respondegn yang mempunyai kepedulian mengenai pengaruh penayangan TV terhadap tumbuh kembang anak. Dalam poliing ini, hal yang dipertanyakan adalah “Bagaimanakah Pengaruh Penayanganan TV bagi Tumbuh Kembang Anak?” yang mempunyai 4 pilihan jawaban, yaitu “buruk; sedang; bagus; dan tidak tahu”. Hal ini disebabkan oleh perkembangan tayangan TV meliputi film, sinetron, atau tayangan lain yang menjadi hiburan yang memiliki daya tarik tersendiri untuk masyarakat secara umumnya, dan anak secara khususnya.

Dari pertanyaan dan pilihan jawaban tersebut , dari total 423 responden yang mengikuti polling dan menjawab pertanyaan tersebut, 295 responden atau sekitar 69,7% menjawab bahwa penayangan televisi saat ini buruk bagi proses tumbuh kembang anak; sedangkan 22,9% atau 97 responden menjawab sedang. Di sisi lain, hanya 27 responden atau sekitar 6,4% yang menjawab bahwa pengaruh tayangan televisi adalah bagus bagi proses tumbuh kembang anak; dan yang menjawab tidak tahu sebesar 4 responden atau sekitar 0,9%.

Dari persentase tersebut, ternyata sebagian besar responden memilih bahwa tayangan televisi adalah buruk bagi proses tumbuh kembang anak, responden ini mempunyai beberapa alasan diantaranya bahwa tayangan televisi saat ini lebih menonjolkan pada pergaulan yang tidak mendidik bagi anak-anak, penuh dengan tayangan kekerasan, mistik, maupun menonjolkan hal-hal yang sensual. Namun, responden yang menjawab bahwa tayangan televisi adalah bagus bagi proses tumbuh kembang anak, ini karena responden beralasan dengan adanya tayangan-tayangan sinetron religius yang mendidik pemahaman agama bagi anak.

Setelah banyak pernyataan yang muncul tentang tontonan anak, bahwa tontonan seperti ini tidak baik untuk diperlihatkan kepada anak, tontonan seperti ini tidak berkualitas, tontonan seperti itu tidak mendidik, tidak pantas, lalu muncul pertanyaan untuk semua orang, ‘tontonan seperti apa yang harusnya ditonton oleh anak? Tontonan seperti apa yang layak ditonton oleh anak?’

Sebenarnya, ada banyak unsur tontonan yang dapat disajikan kepada anak, yang akan berdampak baik bagi tumbuh kembangnya. Salah satunya ialah unsur fantasi. Manfaat berfantasi adalah menumbuhkembangkan daya imajinasi dan jiwa kreatif pada seseorang. Fantasi merupakan praktik permainan yang khusus dilakukan sendiri. Anak dapat membentuk dunia sesuai dengan keinginannya (imaginasi).

Fantasi selain proses kreatif mengembangkan kemampuan sisi otak kanan, juga untuk pembentukan kecerdasan interpersonal (salah satu dari delapan kecerdasan teori multiple intelligence, Howard Garner) bersumber dari : http://www.anneahira.com/permainan/index.htm. Selain itu, menurut Andi Yudha Asfandiyar, bersumber dari http://www.scribd.com/doc/3017881/kembangkan-fantasi-anak-lewat-dongeng, setiap anak perlu mengembangkan imajinasi. Karena tanpa itu, akal dan pikiran menjadi pasif atau buntu, mandeg dan tidak terlatih untuk memecahkan aneka ragam masalah.

Salah satu sinetron anak yang mengandung unsur fantasi dan layak untuk ditonton oleh anak adalah Momon, yang ditayangkan di Global TV. Namun, tontonan yang mengandung unsur fantasi harus tetap mengajarkan kepada anak untuk dapat membedakan dunia imajinasi dengan dunia nyata. Misalnya dalam sebuah film, seorang anak menampilkan dunia fantasinya dalam bingkai mimpi, dan unsur fantasi akan berganti dengan kenyataan saat anak itu bangun dari tidurnya, dan dia sadar bahwa apa yang ada dalam mimpinya hanya fantasi.

Salah satu tontonan anak yang baik juga adalah kuis Are You Smarter Than a Fifth Grader yang ditayangkan di Global TV. Kuis ini tampil sebagai salah satu alternatif cara bermain dan belajar untuk anak-anak. Selain penonton yang masih berada di tingkatan pendidikan sekolah dasar, para pelajar dan orang dewasa dapat mengingat lagi pengetahuan yang mungkin saja terlupa setelah lepas dari bangku sekolah dasar. Hal yang dapat menjadi poin tambahan dalam kuis ini adalah candaan-candaan sehat yang dilontarkan pembawa acara agar ketegangan dalam menjawab soal dapat hilang, sehingga jalannya permainan dapat menjadi lebih santai dan konsentrasi. Candaan yang sehat adalah candaan ringan berupa cerita-cerita lucu atau tebakan untuk anak kecil dan tidak mengandung unsur seks dan sara.

Jika dibandingkan dengan tontonan keluarga pada umumnya, dan anak pada khususnya, kuis pengetahuan seperti ini jauh lebih baik dan mendidik. Bandingkan saja dengan sinetron-sinetron seperti Cinta Fitri Season Ramadhan yang di dalamnya ada banyak tindakan kekerasan dan kejahatan, atau sinetron Safa dan Marwah yang ditayangkan RCTI mendapat teguran karena menampilkan adegan kekerasan yang menggunakan senjata dan disertai umpatan-umpatan, bersumber dari http://www.kpi.go.id/?etats=detail&nid=1596.

Tayangan yang tidak kalah meresahkan adalah siaran berita yang menampilkan adegan kekerasan. Salah satunya, siaran peristiwa kerusuhan di sekitar Makam Mbah Priok di Jakarta Utara yang menayangkan aksi kekerasan secara vulgar. Berulang-ulang adegan ini disiarkan dari awal hingga akhir adegan. Sebenarnya, siaran ini bertujuan memperlihatkan kepada masyarakat bagaimana kesalahan fatal yang dilakukan oleh oknum yang seharusnya menjaga dan melindungi masyarakat, serta menjadi kritik sosial. Namun, kekerasan yang dipertontonkan tanpa disensor ini dikhawatirkan akan berakibat pada tumbuh kembang anak yang menyaksikannya, sehingga mendatangkan surat peringatan dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Nusa Tenggara Barat (NTB), bersumber dari http://www.kpi.go.id/?etats=detail&nid=1974.

Dalam Seminar Nasional “Tontonan Anak Indonesia” pada tanggal 11 Mei 2010, yang diselenggarakan oleh Departemen Susastra dan PPKB, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, digambarkan kehidupan anak dalam tontonan anak Indonesia. Ishadi S.K. mengatakan bahwa kontrol terhadap media dapat dilakukan di luar media dan di dalam media. Salah satu hal yang dijadikan kontrol di dalam media adalah pengaturan jam tayang antara jam tayang untuk anak-anak, remaja, dewasa, dan khusus. Kontrol di luar media adalah pendampingan orang tua, kampanye untuk tidak menonton televisi, dan memperbanyak kegiatan di sekolah dan aktivitas luar rumah.

Hal yang sama dipaparkan oleh Ade Armando, bahwa tontonan dewasa tidak boleh ditayangkan pada jam-jam anak. Ini telah ditetapkan pada Standar Program Siaran (SPS) No.38. Selain itu, dalam tontonan anak tidak dibenarkan adanya adegan kekerasan, kepercayaan pada paranormal, dan perceraian.

BAB III

PENUTUP

Simpulan

Selama bulan Januari hingga November 2009, KPI telah menerima lebih dari 7100 pengaduan masyarakat untuk berbagai kategori tayangan. Ini menunjukkan betapa pentingnya pemerintah dan media untuk memperhatikan kembali tontonan yang disajikan dengan bersahabatnya oleh stasiun-stasiun televisi.

Banyak tontonan yang berkualitas dan pantas untuk ditayangkan stasiun TV sehingga pantas pula untuk ditonton keluarga Indonesia. Namun, tontonan tidak berkualitas dan justru hanya memberikan dampak negatif pun bertebaran setiap hari di stasiun-stasiun TV yang tidak memiliki integritas dan tanggung jawab kepada tumbuh kembang anak, melainkan hanya mementingkan rating dari siaran-siarannya.

Dalam setiap tontonan, tentu saja akan ditemukan dampak negatif dan positif. Hal terpenting adalah tontonan sebagai salah satu sarana pembelajaran dan pendidikan untuk anak, sehingga diperlukan peran aktif orang tua dan orang dewasa dalam membimbing anak dalam penafsirkan tontonan-tontonan itu. Bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua dan orang dewasa yang ada di sekeliling anak, tetapi juga menjadi tanggung jawab media, guru, pemerintah, hingga masyarakat secara umum. Dengan begitu, dampak positif dapat dikembangkan, sebaliknya dampak negatif dapat diminimalisir.

Sumber Data

http://www.globaltv.co.id/v2/index.php?i=abt&r=bmV3cy5waHA=&section=ABT&id=c4ca4, 38a0b923820dcc509a6f75849b (21-02-2010)

http://www.kpi.go.id/?etats=detail&nid=1974 (22-05-2010)

http://www.kpi.go.id/?etats=detail&nid=1596 (22-05-2010)

http://www.komnaspa.or.id/fakta.asp?p=130 (22-05-2010)

Hasil Polling Pengaruh Penayangan TV Bagi Anak (22-05-2010)

AsianBrain.com Content Team. Permainan Anak dalam

http://www.anneahira.com/permainan/index.htm (23-03-2010)

He-Man, Kembangkan Fantasi Anak dalam Dongeng dalam

http://www.scribd.com/doc/3017881/kembangkan-fantasi-anak-lewat-dongeng

(23-03-2010)

One thought on “Makalah Tontonan yang Baik untuk Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s