Facebook Mengalahkan Pintu Ke Mana Saja Milik Doraemon

Harliati

0806353545

Program Studi Indonesia

Facebook Mengalahkan Pintu Ke Mana Saja Milik Doraemon

Bulan lalu Susan, seorang teman kuliahku bertemu dengan seorang pria yang dikenalnya dari Facebook, situs jejaringan sosial yang memungkinkan setiap manusia bertemu dan berkomunikasi dengan orang yang berada di negara dan pelosok dunia manapun. Mereka janjian di sebuah kafe di kawasan Margonda. Namanya pria itu Frans, seorang senior satu almamater dengan kami, namun berbeda fakultas.

Susan bercerita bahwa awalnya Frans mengirimkan permintaan pertemanan Facebook setelah mereka bertemu di sebuah game online. Keesokan harinya mereka bertemu lagi di game itu. Karena game online difasilitasi aplikasi chatting, berlanjutlah komunikasi Susan dan Frans lewat chatting, smsan, dan telepon-teleponan. Lama-kelamaan mereka semakin dekat, hingga beberapa hari setelah pertemuan kami itu, Frans menyatakan ketertarikannya pada Susan dan keinginannya menjalin hubungan kekasih.

Susan berterus terang jika dia pun tertarik pada Frans. Selain baik hati dan perhatian, bentuk tubuh Frans yang proporsional didukung dengan hidung mancung menambah aksen kebarat-baratan di wajahnya. Ditambah lagi profesinya sebagai pengacara muda, sebuah cita-cita Susan yang tak kesampaian.

Bukan hanya padaku, Susan juga menceritakan hal ini kepada beberapa teman dekat sekaligus meminta pendapat mereka. Hampir semuanya menyarankan agar dia menolak permintaan Frans karena mereka menganggap hubungan yang diawali dengan perkenalan lewat dunia maya itu tidak baik dan membahayakan. Kemungkinan Susan dapat ditipu oleh orang yang tidak jelas asal-usulnya. Alasan mereka adalah data-data pribadi di semua situs jejaring sosial bisa saja dipalsukan dengan mudah. “Jakarta itu kejam loh, San!” kata salah seorang teman. “Ia, kalo terjadi apa-apa sama elo ‘kan ngeri.” Tambah teman yang lain.

Jaka, seorang teman kampus menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang perempuan yang sedang linglung beberapa hari yang lalu. Perempuan itu berjalan kaki dengan helem yang masih terpasang di kepalanya menghampiri Jaka yang sedang duduk-duduk di teras rumahnya di kawasan Mampang. Saat Jaka mengajaknya berbicara, dia baru tersadar dan langsung menangis, yakin bahwa dia baru saja ditipu oleh pemuda yang dikenalnya dari chatting mIRC. Alhasil, pria itu menghipnotis dan membawa kabur sepeda motor milik si perempuan malang itu.

Susan menyunggingkan sebuah senyum kecut, merasa pengalaman pahit si perempuan itu kesalahannya sendiri, kenapa dia terlalu mudah percaya pria itu dan mengosongkan pikirannya sampai bisa dihipnotis? Kisahnya dengan Frans jauh berbeda dengan cerita Jaka. Selain itu, sepertinya Jaka terlalu paranoid dan berlebihan. “Lagipula aku ‘kan sudah selalu chatting dan webcam-an dengan Frans. Apalagi kami sudah pernah bertemu langsung. Dia kelihatan baik kok. Jadi aku rasa gak apa-apa kalo aku ketemuan dengan dia.” Katanya dengan nada memelas seakan meminta teman-temanku memikirkan kembali pendapat-pendapat mereka.

Menurutku, Susan memang sedang merasa tertarik dan jatuh cinta, tetapi dia juga harus berpikir lebih realistis dan menggunakan logika. Tampang polos dan baik yang dimiliki seseorang tidak memberikan jaminan sama sekali bahwa dia adalah orang baik-baik dan bukan penjahat. Susan masih harus mengenal lebih dekat pria yang ingin dijadikannya kekasih, bukan hanya mengikuti perasaan dan romantika sesaat.

Aku setuju dengan pendapat dan saran dari teman-temanku. Sebagian hubungan nyata yang diawali dengan hubungan di dunia maya berjalan dan berakhir baik, dan sisanya berakir buruk. Beberapa kasus mengecewakan terjadi karena seseorang tidak menjaga privasi dan keamanan identitasnya, tetapi banyak pula yang bahagia karena hubungan yang diawali dengan perkenalan dari ‘si maya’.

Saat aku masih menjadi penyiar di sebuah stasiun radio swasta di ibukota, ada sepasang pemuda menelepon dan menceritakan kisah cinta mereka yang berawal dari Facebook. Setelah mereka bertemu dan menjalin hubungan beberapa tahun, akhirnya mereka menikah. Dan saat mereka menelepon, mereka sedang bulan madu di Bali. “Wow, benar-benar romantis”.

Kisah itu tidak jauh berbeda dengan kisah kakak Hana yang mengenal pria yang sekarang sudah menjadi suaminya lewat Facebook, hanya dalam hitungan bulan mereka sepakat untuk menikah.

Situs pertemanan Facebook memang memiliki banyak manfaat. Melalui situs itu, seseorang dimungkinkan menemukan teman lama, menemukan teman baru, menjalin pertemanan, bergabung dalam komunitas seperti kota, kerja, sekolah, dan daerah untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan orang lain, mengirimkan pesan dan komentar.

Selain fasilitas-fasilitas utama yang disebutkan, masih sangat banyak fasilitas-fasilitas yang ditawarkan situs itu, baik secara formal atau non-formal, independen atau dependen. Fakta ini menepis jarak, ruang dan waktu yang selama ini menjadi kendala manusia dalam berkomunikasi. Kehadiran Facebook di tengah masyarakat mengalahkan peran pintu ke mana saja milik tokoh kartun Doraemon.

Kini jumlah facebooker Indonesia jauh melebihi pengguna di Singapura dan Malaysia. Padahal Facebook hingga pertengahan 2007 nyaris tak dilirik pengguna internet di sini. Tapi, memasuki pertengahan tahun lalu, jumlah akses ke situs ini melonjak tajam dan menempatkannya sebagai situs ranking kelima yang paling banyak diakses di Indonesia. Bahkan Indonesia tercatat dalam sepuluh besar negara pemakai situs yang mulai dibuka untuk umum pada 2006 ini, yaitu 150 juta orang–sekitar 700 ribu orang berasal dari Indonesia.

Tidak ada situs jejaring sosial lain yang mampu menandingi daya tarik Facebook terhadap penggunanya. Pada tahun 2007, terdapat penambahan 200 ribu akun baru perharinya Lebih dari 25 juta pengguna aktif menggunakan Facebook setiap harinya. Rata-rata pengguna menghabiskan waktu sekitar 19 menit perhari untuk melakukan berbagai aktivitas di Facebook.

Semakin banyak pengguna Facebook dengan tingkat intensitas penggunaannya yang semakin tinggi membuat resiko penyalahgunaan situs itu pun semakin besar. Dari sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan asal University of Washington, terungkap kalau 54 persen remaja yang tergabung di Facebook dan Myspace, sering membicarakan hal yang sensitif seperti narkoba dan seks di forum ini.

Para peneliti mengatakan bahwa jumlah pesan dan postingan di halaman 130 pengguna Facebook sangat berkorelasi dengan seberapa narsisnya mereka. Pimpinan studi Laura Buffardi Ph.D, mengatakan bahwa ini setara dengan seberapa narsisnya mereka di dunia nyata. Orang yang narsis di Facebook bisa ditandai dengan tampilan yang glamour pada foto diri utama mereka.

Di studi terdulu, ilmuwan menemukan bahwa halaman personal di situs-situs sangat popular di kalangan kaum narsis, namun bukan berarti semua pengguna Facebook adalah narsis. Ditemukan, bahwa orang narsis bisa jadi terlihat sangat menarik, tapi mereka biasanya merasa lebih hebat dari orang lain. Mereka suka melukai orang lain di sekitarnya.

One thought on “Facebook Mengalahkan Pintu Ke Mana Saja Milik Doraemon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s