Anak Indonesia Tetap Anak Indonesia!

Harliati

0806353545

Program Studi Sastra Indonesia

ANAK INDONESIA TETAP ANAK INDONESIA!

Beberapa hari lalu ada seorang pria warga Negara asing berkulit putih dan berkulit mancung memilih susu-susu kaleng yang ada di rak swalayan. Dia datang bersama dua anak kecil, balita yang dibiarkan duduk di dalam trolley dan seorang anak berumur sekitar 10 tahun merengek sambil memeluk kaki pria itu. Berbeda dengan pria itu, dua orang anak di dekatnya berkulit hitam, rambut ikal, mata bulat, dan wajah mereka menunjukkan berasal dari Indonesia bagian timur.

Anak yang mungkin duduk di bangku SD itu terus merengek kepada pria yang dipanggilnya ‘ayah’, namun bukan sapaan yang biasa digunakan anak-anak Indonesia kepada orang tua pria mereka, tetapi dengan bahasa Inggris, ‘Dad’. Gadis kecil itu terus menangis dan berbicara dengan bahasa asing, begitu pula dengan ayah angkatnya yang justru balik mengomel pada si anak.

Banyak hal memprihatinkan terjadi jika anak Indonesia diadopsi oleh orang asing. Yang pertama, tentu saja anak yang diadopsi dibiasakan menggunakan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari, hingga ada kecenderungan untuk menggunakan bahasa aslinya menjadi bahasa kedua, atau bahkan melupakannya. Sekilas hal ini terlihat sangat sepele, namun akan menjadi masalah besar jika anak tersebut mulai masuk bangku sekolah dan harus dipaksa beradaptasi dengan anak-anak seusianya yang menggunakan bahasa Indonesia. Tentu saja anak akan merasa kesusahan dan menjadi bahan ejekan teman-temannya.

Jika anak Indonesia diadopsi dan dibawa ke negera asal orang tua angkat mereka, kemungkinan besar ia tidak akan kembali ke Indonesia. Banyak contoh kasus pelajar Indonesia yang bersekolah dan bekerja di luar negeri dengan biaya dan beasiswa dari negara, justru lupa untuk pulang ke Nusantara. Harapan pada mereka sebagai generasi penerus bangsa yang bisa ‘berguru’ di negeri orang dan menggunakan ilmunya di Indonesia, dan memperbaiki bangsa ini, justru keenakan dengan kenyamanan yang tersaji di negeri orang. Padahal, Indonesia jauh lebih membutuhkan pengabdian mereka daripada negara-negara yang sudah maju.

Masalah yang ditimbulkan lagi oleh anak angkat yang tidak kembali ke Indonesia adalah mereka tidak bisa bertemu dengan orang tua kandung mereka yang juga berharap kepulangan mereka dan kembali bersama dalam sebuah keluarga. Orang tua yang merelakan anaknya tidak tumbuh bersama keluarga asli karena faktor ekonomi dan berharap kepulangan anaknya membawa perubahan ke arah lebih baik, justru melupakan ayah dan ibu yang sangat mencintai dia.

Hal memprihatinkan juga mengancam keselamatan mereka, karena tidak ada undang-undang yang kuat yang bisa sekadar mengamankan. Seluruh masyarakat Indonesia pasti masih ingat bagaimana perlakuan negara tetangga terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) yang bersekolah atau berkunjung ke sana, bahkan tidak dianggap sebagai makhluk hidup. Negara tetangga justru membuat gerakan anti-warga Indonesia dengan melakukan sweeping. Dan selanjutnya, tidak ada perlakuan atau sanksi tegas untuk tindakan fatal itu.

Belum lagi mengingat budaya luar yang sangat berbeda dengan nilai-nilai kebudayaan Nusantara yang ketimuran dan kental dengan nilai sopan santun dan ramah. Jika anak Indonesia dibiarkan tinggal di luar negeri, hal yang mengancam adalah sikap individualis dan pergaulan bebas yang akan merusak etika dan nilai keluhuran bangsa. Tetapi ini tidak akan terjadi jika pemuda-pemudi ini dibesarkan dengan didikan dan asupan kasih sayang yang cukup, mereka bisa jauh berprestasi melebihi saingan-saingan mereka di dunia internasional. Banyak fakta yang membuktikan keeksistensian dan kecerdasan anak-anak bangsa yang tidak diragukan lagi, sekali lagi tentu saja mereka tidak untuk disia-siakan.

Jadi mengapa anak-anak Indonesia yang tidak memiliki orang tua dan membutuhkan kasih sayang serta perlindungan dari orang tua harus mencari orang-orang asing untuk merawat mereka, jika di negara sendiri banyak orang-orang kaya dan berkelimpahan bisa membantu mereka. Jauh lebih baik jika yang mengulurkan kasih sayang bagi anak-anak Indonesia adalah ‘tangan-tangan’ bangsa sendiri. Sebagian masyarakat dengan perekonomian menengah ke atas pun mampu menjadi orang tua angkat. Setidaknya 1-3 orang anak, dengan bermodalkan kesungguhan dan cinta yang tulus, toh mereka pun anak-anak berharga milik Sang Pencipta.

Sudah seharusnya bangsa kita lebih peka dalam menghadapi gejala-gejala sosial seperti ini, bukan hanya disibukkan dengan masalah ekonomi dan pemerintahan. Permasalahan pengadopsian dan pemeliharaan anak angkat juga tidak kalah pentingnya. Bukan hanya mereka yang yatim piatu, tetapi mereka juga yang berasal dari keluarga tidak mampu, anak dari orang tua yang bercerai, dan mereka yang tidak mengetahui orang tuanya.

Semua ini menyadarkan kita, bukanlah kesalahan orang-orang asing yang ingin menjadi orang tua angkat bagi putra-putri bangsa, tetapi harusnya menjadi cerminan refleksi dan evaluasi bagi kita, bangsa Indonesia secara keseluruhan. Sebuah ‘pekerjaan rumah’ bagi presiden, pemimpin-pemimpin, serta pejabat negara untuk mengusahakan pengadopsian anak-anak yang membutuhkan orang tua angkat. Mereka seharusnya lebih kritis, tegas, dan kreatif dalam memecahkan masalah ini, mulai dari efesiensi peranan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi-organisasi mandiri dan komunitas, serta gerakan kepemudaan. Dengan begitu, anak-anak Indonesia tetap akan menjadi milik Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s