Peran Jacqueline Sebagai Inang Pengasuh dan Kaitannya dengan Peran Seorang Pengasuh kepada Anak

UNIVERSITAS INDONESIA

PERAN JACQUELINE SEBAGAI INANG PENGASUH DAN KAITANNYA DENGAN PERAN SEORANG PENGASUH KEPADA ANAK

DARI NASKAH DRAMA DOKTER GADUNGAN KARYA MOLIERE

Makalah yang Dibuat

untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Pengkajian Drama

oleh

Harliati

0806353545

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

DEPOK

DESEMBER, 2009

BAB I

PENDAHULUAN

I.  a.    Latar Belakang

Drama bukanlah suatu karya seni yang hanya dapat dimainkan dan dinikmati oleh kalangan tertentu, baik dari segi status sosial, usia, dan pendidikan. Hampir semua golongan masyarakat sudah tahu tentang drama dan setidaknya pernah menonton drama.

Seiring dengan perkembangan waktu dan modernisasi, drama tidak lagi dikemas dan diisi dengan hal-hal yang terlalu kompleks yang memerlukan analisis yang berat untuk menyerap apa yang dimaksudkan, tetapi disajikan secara dinamis dan menarik, sesuai dengan target penonton yang ingin dicapai.

Semakin lama drama pun semakin berkembang dan diminati, terbukti dengan semakin banyaknya naskah drama baru yang bermunculan, namun drama-drama klasik pun tetap dapat dipertahankan keeksistensiannya karena drama-drama itu masih sesuai dengan realitas hidup sekarang.

Organisasi kesenian, secara khususnya dalam bidang drama semakin menjamur di lembaga-lembaga pendidikan, komunitas bahkan masyarakat umum. Hal ini disebabkan karena kebebasan berekspresi dan berkarya yang tidak terbatas. Di sekolah-sekolah bahkan di taman kanak-kanak di sebagian besar negara, para murid ajar sudah dikenalkan dengan pementasan drama berbentuk operet. Ini dimaksudkan untuk membiasakan agar masyarakat dapat mengenal drama sejak dini, karena drama memiliki banyak fungsi.

Selain sebagai hiburan, wadah kreativitas, seni, dan ide, drama juga mengandung kekayaan amanat dan nilai-nilai yang dapat menjadi pembelajaran hidup bagi masyarakat, terutama nilai sosial. Drama dapat membuat penikmatnya mengerti pesan dan perintah yang disampaikan dari drama, tanpa merasa digurui, apalagi terpaksa.

Peranan sosial yang terkandung dan dapat dipelajari bukan hanya dari peran-peran penting seperti raja di sebuah kerajaan, kisah cinta seorang pahlawan, pangeran dan putri, tetapi juga pada peran seorang inang pengasuh.

I.   b.   Kerangka Teori

Drama adalah cerita atau kisah yang menggambarkan sifat dan sikap manusia dan melahirkan kehendak manusia dengan akting dan perilaku. Dalam drama, seorang tokoh (pemain) berakting dengan berperan sesuai dengan peran masing-masing.

Drama komedi adalah peniruan manusia yang lebih buruk dari rata-rata. Buruk (ugly, ridiculous) yaitu kesalahan atau kekurangan yang tidak menimbulkan penderitaan, kesusahan atau melukai hati orang lain, tetapi justru menimbulkan gelak tawa karena kelucuan yang  berasal dari fisik, kata-kata (dialog), dan adanya situasi paradoksal (bertentangan). Drama komedi bertujuan merefleksikan perilaku dan kehidupan manusia sendiri sehingga mereka sadar bahwa yang sebenarnya diceritakan adalah mereka sendiri.

Inang pengasuh adalah perempuan yang merawat (menyusui dsb) anak tuan-nya (seperti anak raja atau anak pembesar). Pada zaman lampau, seorang inang pengasuh biasanya bertugas menyusui anak yang diasuhnya saat bayi sehingga ada keterikatan dan hubungan emosional yang kuat antara inang pengasuh dengan anak yang diasuhnya, terutama jika si anak tidak memiliki ibu. Seorang inang pengasuh biasanya telah mengabdi di sebuah keluarga sejak anak yang diasuhnya baru lahir, hingga anak beranjak dewasa. Inang pengasuh itu telah menggantikan fungsi ibu.

Untuk menjadi seorang pengasuh yang baik, seseorang harus memiliki beberapa hal, yaitu :

  1. Dapat menyayangi anak yang diasuh seperti anaknya sendiri
  2. Memiliki pengalaman dalam mengasuh seorang anak
  3. Mampu menciptakan hubungan emosional dengan si anak
  4. Dapat mengetahui kebutuhan anak yang diasuh.

BAB II

ANALISIS


Anak adalah sebuah karunia yang diberikan kepada manusia yang dapat memberikan kebahagiaan kepada orang yang menjadi orang tua. Mereka dianggap bagian dari masa depan orang tua mereka, baik ibu maupun ayah. Setiap orang tua sudah tentu menggantungkan harapan kepada anak-anak agar mereka dapat berhasil dalam kehidupannya, dan harapan itu sangat wajar.

Sedapat mungkin setiap orang tua melakukan hal yang mungkin dilakukan untuk kebaikan dan perkembangan anak, mulai dari memberikan pembelajaran hidup, pendidikan dan pekerti. Selain itu, hal-hal yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan perhatian, kasih sayang dan perlindungan.

Akan tetapi, banyak hal yang dihadapi oleh orang tua dalam melaksanakan kewajiban mereka sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas perkembangan anak. Hal ini sudah terjadi sejak dahulu, saat orang-orang tua mengalami tabrakan kepentingan yang mengharuskan mereka tidak berada di samping anak dan mendampinginya, baik karena tidak adanya waktu dan minimnya kesadaran atas peranan mereka yang dibutuhkan secara langsung. Selain itu, yang menjadi masalah adalah perkembangan anak yang tidak memiliki orang tua (yatim atau yatim piatu).

Menyadari hal ini, dibutuhkan peranan seorang yang bisa menggantikan dan berperan sebagai orang tua bagi anak yang tidak didampingi secara langsung oleh ayah dan ibu mereka. Di sinilah dibutuhkan peran seorang pengasuh, yang identik dengan sebutan bibi, babysitter, dan di beberapa daerah di waktu lampau disebut inang pengasuh.

II.  a.   Pemakaian istilah inang pengasuh

Istilah inang pengasuh hingga sekarang masih sering digunakan dalam penulisan cerita-cerita karya sastra, terutama dalam dongeng-dongeng anak yang menceritakan kehidupan kerajaan-kerajaan, baik dengan latar di Nusantara maupun di negara-negara lain.

Inang pengasuh memiliki peranan yang cukup berarti, walaupun tidak menjadi fokus pengisahan. Inang pengasuh biasanya pemimpin pelayan-pelayan atau seorang pelayan yang dianggap paling bersifat keibuan dan tepat diposisikan sebagai seorang pengasuh yang mengurusi seorang anak.

Contohnya pada Cerita Sumur Lembusura dan Hikayat Bunga Kemuning.

  1. b.   Tokoh Jacqueline sebagai seorang inang pengasuh

Tokoh merupakan bagian atau unsur dari suatu keutuhan artistik, yaitu karya sastra, yang harus selalu menunjang keutuhan artistik itu. Menurut fungsinya, tokoh terbagi atas tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh yang memegang peran pimpinan disebut tokoh utama atau protagonis. Adapun tokoh bawahan merupakan tokoh yang tidak sentral dalam cerita tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang tokoh utama.

Penokohan atau watak ialah kualitas tokoh, kualitas nalar dan jiwanya yang membedakannya dengan tokoh lain. Sedapat mungkin dalam sebuah drama, penokohan tiap tokoh dibuat memiliki perbedaan yang nampak dan sangat menonjol. Hal ini dilakukan dengan cara pemilihan bentuk fisik para tokoh, cara berbicara dan dialog, serta sifat-sifat yang berbeda.

  1. c.  Sifat dan kepribadian Jacqueline

Jacqueline merupakan tokoh bawahan dalam drama Dokter Gadungan dengan sifat dan kepribadian yang berhubungan langsung dengan permasalahan Lucinde seperti berikut.

  1. Bertubuh besar, subur, berpayudara besar, kemungkinan menyusui Lucinde. Terlihat dari pertanyaan Sganarelle kepada Geronte.

“Siapa perempuan besar susu itu?” (Dokter Gadungan : 34)

  1. Pengertian dan mendukung Lucinde. Jacqueline memberitahu Geronte. Walau Geronte tidak memerdulikannya.

“… kenapa tidak Tuan pilih saja Leandre. (Dokter Gadungan : 30)

  1. Kemungkinan besar ikut bersekongkol dengan Lucinde (tidak secara langsung memberitahu Geronte jika Lucinde sebenarnya sedang berpura-pura)

“… obat yang paling baik yang dapat diberikan pada anak gadis Tuan, ialah seorang suami cakap yang sudah lama ia inginkan.” (Dokter Gadungan : 29)

  1. Mengenal dan tahu kepribadian anak yang diasuhnya, terbukti dia yakin dengan perkataannya.

“… yang diperlukan bagi anak Tuan bukan ramuan atau apa pun juga.” (Dokter Gadungan : 29)

  1. Mengetahui hal apa yang diinginkan oleh anak yang diasuhnya

“… obat yang paling baik yang dapat diberikan pada anak gadis Tuan, ialah seorang suami cakap yang sudah lama ia inginkan.” (Dokter Gadungan : 29)

  1. Berani/ blak-blakan menentang tuannya. Sudah terbiasa ikut campur urusan keluarga, karena sudah lama mengabdi pada keluarga Geronte dan mengasuh Lucinde.

“… itu contoh yang baik buat Tuan. Yang kita miliki di dunia ini hanya kesenangan…” (Dokter Gadungan : 31)

  1. Tidak gampang ditipu dan dibohongi. Dia tahu alasan Sganarelle tidak masuk akal.

“Masa bodoh, aku tidak mau badanku dijadikan toko obat.”(Dokter Gadungan:43)

  1. Mengetahui rahasia Lucinde dan semua dokter-dokter yang pernah mengobati Lucinde

“… semua dokter ini buat dia tidak akan lebih berguna dari air mentah biasa.” (Dokter Gadungan : 29)

  1. Seorang ibu yang suka bergosip, dia juga tahu urusan-urusan tetangganya

“… dan omongan tentang tetangga Peter, yang mengawinkan anak gadisnya Simonette dengan Thomas gemuk karena ia memiliki kebun anggur sedikit lebih luas… (Dokter Gadungan : 31)

10.  Tidak materialistis. Dia tidak setuju dengan sikap Geronte yang mementingkan materi.

“Pokoknya saya selalu mendengar, bahwa dalam perkawinan, kebahagiaan lebih diperlukan daripada kekayaan.” (Dokter Gadungan : 30)

II.b. Pendekatan sosial

Peran Jacqueline sangat besar dalam mengasuh Lucinde, anak Geronte. Dalam naskah drama Dokter Gadungan, tidak ditemukan sebuah latar pun yang menjelaskan bahwa Lucinde memiliki seorang ibu, didukung pula dengan bentuk fisik Jacqueline yang dijelaskan memiliki bentuk tubuh seorang ibu yang mengasuh Lucinde dengan baik, seperti seorang ibu. Selain itu, sifat-sifat Jacqueline seperti sudah menganggap dirinya bagian dari keluarga kecil yang dimiliki Geronte. Dia berani blak-blakan dan merasa ikut memiliki peran dalam keluarga itu.

Sebagai seorang inang pengasuh, Jacqueline telah menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, yaitu mengasuh dan menjadi teman untuk Lucinde, walaupun itu bertentangan dengan Geronte, ayah dari Lucinde yang adalah tuannya sendiri. Sangat jelas terbukti bahwa Jacqueline jauh lebih mengenal dan memahami Lucinde daripada ayah kandungnya sendiri.

Namun satu hal yang disayangkan adalah Jacqueline tidak dapat membantu mencarikan jalan keluar untuk seorang ayah dan anaknya dalam permasalahan antar anak dan orang tua ini. Jika memungkinkan, Jacqueline sebagai pengasuh akan lebih baik menjalankan perannya jika dia berhasil menjembatani perbedaan pendirian anak dan tuannya.

BAB III
KESIMPULAN

Drama komedi merupakan salah satu jenis drama yang paling diminati karena sifatnya yang menghibur dan paling ringan cara penyampaiannya kepada penikmat drama. Drama komedi berisi hal-hal yang terjadi secara aktual bahkan rutinitas sehari-hari yang kadang tidak disadari bahwa hal itu terasa lucu dan mengundang gelak tawa, sekalipun terkadang itu berisi sindiran dan teguran. Dengan menyatakan sindiran dan teguran dengan cara yang lebih mudah, penikmat drama akan lebih mudah pula menerima amanat drama itu.

Drama ini menyadarkan penikmat drama tentang sebuah peran seorang inang pengasuh, sebuah peran yang cukup penting dalam tumbuh-kembang seorang anak dalam keluarganya, namun sering dikesampingkan.

Peran yang baik oleh seorang inang pengasuh akan berdampak baik pula kepada anak yang diasuh, karena dia dapat menggantikan peran dan tugas dari anggota keluarga lain yang tidak dimiliki oleh seorang anak.

SARAN

Sebaiknya naskah drama komedi yang dijadikan materi dalam kuliah Pengkajian Drama lebih dari (1) satu drama, sehingga mahasiswa yang masih pemula dalam drama dapat bersama-sama mempelajari dan membandingkan naskah drama yang satu dengan yang lain.

Kiranya dalam kuliah Pengkajian Drama mahasiswa diberi kesempatan untuk membuat naskah drama komedi yang sederhana dan dipentaskan oleh kelompok-kelompok kecil di dalam kelas. Dengan begitu, mahasiswa bisa mencari dan menentukan sendiri unsur-unsur kelucuan dan hal-hal yang bersifat paradoksal dalam karya mereka.

DAFTAR PUSTAKA

K. Toha Sarumpaet, Riris. Bacaan Kuliah Pengkajian Drama. Jakarta : Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1999.

http://medandailynews.blogspot.com/2008_10_25_archive.html

http://www.balita-anda.com/dongeng-anak/704-hikayat-bunga-kemuning.html

2 thoughts on “Peran Jacqueline Sebagai Inang Pengasuh dan Kaitannya dengan Peran Seorang Pengasuh kepada Anak

  1. maaf kak, mau tanya dong naskah dokter gadungan dapat darimana ya? saya sudah cari gak ketemu juga. saya juga dapat tugas dari bu riris
    terimakasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s