Sastra Wangi (Makalah Ilmiah untuk Debat)

Sastra Wangi (Makalah Ilmiah untuk Debat)

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA

SASTRA WANGI

MAKALAH ILMIAH DEBAT


DISUSUN OLEH :

DIAN NOVITASARI (0806318662)

HARLIATI (0806353545)

MOCHAMMAD AGGY IRAWAN (0806353601)

MURSYIDATUL UMAMAH (0806466304)


FAKULTAS ILMU DAN BUDAYA

PROGRAM STUDI INDONESIA

MEI, 2009


BAB  I

PENDAHULUAN

Sastra di dalam negeri ini mengalami banyak perkembangan yang disebabkan banyak hal. Salah satunya adalah modernisasi yang dialami oleh hampir semua individu yang ada di dunia ini. Dari modernisasi itu pula muncul berbagai paham yang di dalamnya mengandung unsur kekuasaan atau kritik pada sebuah kekuasaan.

Sastra wangi merupakan perwujudan dari modernisasi yang dialami dunia produksi karya sastra dan menyebabkan satu lagi variasi dan inovasi dalam dunia sastra. Sebuah paham feminisme bersarang di dalamnya. Inovasi tersebut bermukim dengan subur di negeri ini karena didukung beberapa faktor, seperti:

Pertama, masyarakat umum mulai memiliki sikap reseptif yang baik terhadap karya sastra. Karya sastra kini menjadi pembicaraan penting sekaligus bersifat sehari-hari, bahkan para tokohnya muncul dalam pelbagai infotainment.

Kedua, adanya pencanggihan cara mengemas teks sastra. Kecanggihan ini melahirkan apa yang disebut pasar atau industri sastra.

A.  Latar Belakang

Sastra Indonesia telah mengalami kebangkitan setelah terpuruk karena dikuasai oleh kekuasaan-kekuasaan politik di negara Indonesia yang membatasi setiap tulisan, pemikiran, dan hasil cipta, rasa, dan karsa masyarakat Indonesia sebagai manusia.

Adanya aliran sastra wangi membuka pemikiran tentang kebebasan berekspresi dan menyatakan pemikiran setiap orang, dalam hal ini perempuan sebagai pihak yang selama ini menganggap seks dan pelajaran seks sebagai hal yang tidak biasa dan membatasi sebuah karya sastra.

Sastra wangi memberikan ‘penyegaran’ dan sensasi baru dalam bidang sastra Indonesia yang selama ini terkesan monoton dengan cerita biasa-biasa saja, baik dalam penokohan, kata-kata, alur, dan unsur-unsur novel lainnya. Hal ini dibawakan oleh perempuan-perempuan penulis yang tidak hanya memakai kata-kata metafora untuk hal berbau seks, tetapi langsung menyebutnya.

B.  Perumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah perbedaan pemikiran, sikap, dan tanggapan masyarakat terhadap karya-karya sastra wangi, baik pro maupun kontra. Hal ini menunjukkan sisi positif dan negatif sastra wangi.

C. Tujuan Penulisan

Makalah ini dibuat dengan tujuan menampilkan hal-hal tentang sastra wangi dan dampak positif sehingga dapat kita  lakukan pembelajaran yang berwujud akhir pada pengembangan dunia sastra.

D. Metode Analisis

Metode yang digunakan dalam membuat makalah ini adalah metode yang mengacu berita dan artikel pada situs, media cetak, dan novel yang relevan terhadap topik bahasan.

E. Sistematika Penulisan

Makalah ini terdiri dari tiga bab.  Bab I merupakan pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode analisis, dan sistematika penulisan.  Pada bab II merupakan isi yang membahas masalah sesuai dengan topik dilihat dari berbagai aspek dan sudut pandang. Pada bab III atau bab penutup berisi tentang kesimpulan dari masalah tersebut.

BAB II

Sastra Wangi Sebagai Sebuah Kebangkitan Feminisme Menduduki Patriarki


Sastra wangi adalah karya sastra yang diciptakan sastrawan perempuan yang melakukan revolusi penafsiran seksual ke dalam teks atau karya sastra bertabur bahasa seksis yang ditulis sastrawan perempuan. Di sisi lain, sastra wangi juga menunjuk pada pengertian karya sastra yang diciptakan perempuan selebriti. Sastra wangi juga dikenal dengan sastra selangkangan, sastra lendir, dan sastra kelamin.

Sebenarnya banyak karya yang bermuatan seksual, tetapi tidak vulgar. Hampir di setiap karya sastra ada adegan-adegan atau fragmen-fragmen yang berhubungan dengan seks, tapi pendobrakan para penulis perempuan itu dengan kevulgaran.

“Munculnya karya-karya itu merupakan mediasi untuk menguakkan rasa terkungkungnya dengan cara vulgar dan bebas sehingga publik menilai karya yang demikian sebagai sastra lendir” (Jawa Pos, 2004).

Banyak kritikus sastra yang memuji novel-novel yang mengeksplorasi seks karena dianggap begitu ekspresif, indah, dan berani. Karya seperti itu dianggap sebagai suatu lompatan ideologi dan kekuatan yang mampu menggugat zamannya. Pengambilan diksi, metafora, penggambarannya sangat vulgar dan glamour sesuai dengan karakter modernitas yang hanya diukur  dari sisi rasional; apabila diberi peluang untuk maju ke depan, mereka (sastrawan lendir) mungkin akan tampil sofistik.

Fenomena sastra wangi pun mengundang pro dan kontra mengenai eksplorasi seks dalam dunia sastra. Masih banyak karya sastra yang mendeskripisikan adegan seks secara mendalam. Ada yang menyebut para penulis perempuan itu sebagai generasi sastra wangi pengagung feminisme. Feminisme adalah sebuah doktrin yang menyerukan kesetaraan hak-hak sosial dan politik kaum perempuan terhadap kaum laki-laki. Para penulis perempuan mengangkat tema emansipasi wanita sebagai wujud kesetaraan sosial, yang ingin lepas dari mindset (format pikiran) bahwa perempuan diikat secara kulturis dengan sistem selera dan budaya patriarki. Tubuh perempuan selama ini dijadikan sebagai objek seks dan sangat jarang menjadi subjek seks. Kaum feminisme modern sangat menganjurkan pengwujudan kegiatan menulis tentang seksualitas perempuan dalam karya sastra sehingga muncul istilah “sexts” sebagai bentuk akronim dari kata sex dan text.

“Penulisan feminin adalah dunia penulisan yang diciptakan berdasarkan perbedaan seks yang di dalamnya terdapat ketiadabatasan, seperti mimpi. Perbedaan seks dapat menunjukkan determinasi penulisan yang berbasis jender dan memiliki potensi alternatif sekaligus jalan memahami dunia. Penulisan feminin memiliki potensi kemungkinan analisis bagi kedua jenis kelamin, meski perempuan akan lebih dekat dengan konsep ini daripada laki-laki. Penulisan feminin berpotensi menyatakan dan memformulasi struktur yang bahkan meliputi atau memasuki pengalaman lainnya.” (Kompas, Rabu, 03 November 2004 Penulisan Feminin dan Maskulin

Daya Hidup, Seks, dan Narasi
Kematian dalam Semangat Tubuh)

Dalam novel-novel yang mengeksplorasi seks diperlihatkan bahwa perempuan mempunyai kuasa atas tubuhnya dan bisa berinisiasi dalam melakukan hubungan seks. Niat para penulis perempuan ini ingin mengangkat derajat perempuan dengan segala upaya demi hilangnya kedudukan diri sebagai objek seks.

Wacana tubuh pada penulisan feminin memang tampak lebih kompleks dan terbuka. Ia tidak hanya bicara bentuk-bentuk tubuh dalam melihat dunia, melainkan tubuh yang membawa proses reproduksi, di antaranya menstruasi. Senapas dengan cerpen Menyusu Ayah Djenar Maesa Ayu dalam Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), Djenar membentang proses tubuh yang melahirkan manusia sebagai awal pertarungan hidup-mati Ibu dan anak perempuannya, Nayla.

”Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah daripada laki-laki. Sayalah yang membantu Ibu melahirkan, bukan dokter kandungan. Ketika Ibu kehabisan napas dan sudah tidak dapat lagi mengejan, saya menggigiti dinding vagina Ibu dengan gusi supaya jalan keluar bagi saya lebih mudah… saya menendang rahim Ibu dan mendorong badan saya keluar keras-keras… Dokter kandungan memegang kedua kaki saya dan mengangkat saya hingga jungkir balik. Saya menangis keras. Saya ingin memeluk Ibu. Tapi dokter kandungan seperti tidak peduli. Ia malah menggunting tali pusar saya… saya berteriak memohon Ibu. Dokter menutup tubuh Ibu dengan kain putih… Terpisah dari Ibu… Saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Saya ingin membela Ibu.”

Sastra wangi juga merupakan bentuk perundingan sosial terhadap kaum perempuan,  genre sastra wangi kemudian menjadi daya tarik tersendiri dalam peta sastra Indonesia. Selain kreatornya memang pada umumnya “enak dipandang”–mungkin karena bukan laki-laki– gaya bahasa mereka juga berbeda dengan gaya sastra kreator laki-laki. Jika para sastrawan laki-laki masih memakai metafora untuk mengungkapkan alat-alat reproduksi manusia dan aktivitas seks, para sastrawan perempuan justru melakukan revolusi; menabrak tabu seks dengan menulis istilah-istilah itu secara langsung dan jelas. Jika penulis laki-laki masih berbahasa sopan, Ayu Utami dengan leluasa menulis

“Dan aku menamai keduanya puting karena merupakan ujung busung dadamu. Dan aku menamainya klentit karena serupa kontol yang kecil. Namun liang itu tidak diberinya sebuah nama. Melainkan, dengan ujung jarinya ia merogoh. Dan dengan penisnya ia menembus..” (Saman, Ayu Utami).

Djenar pun tak kalah berani dan menulis

“Saya heran, kenapa ayah tidak pernah menyusui lagi. Padahal saya sudah haus. Padahal saya sudah rindu. Tapi ayah malah menyangkal! Katanya ia tidak pernah menyusui saya dengan penisnya.” (Menyusu Ayah, Djenar Maesa Ayu).

Demikian pula yang dilakukan oleh Dinar Rahayu

“Ada seorang lelaki bernama Jonggi. Ia pernah bertahun-tahun menjadi korban sodomi abangnya sendiri. Yang menyedihkan, bukan hanya itu, Jonggi juga menjadi korban pencabulan dan pemerkosaan ibu kandungnya yang kesepian, saat ia kecil dan remaja. Ibu kandungnya yang sebenarnya juga memiliki selingkuhan di belakang suaminya hamil oleh Jonggi, tapi kemudian keguguran. Gilanya, Jonggi kemudian malah menikmati hubungan dengan ibunya sendiri. Ia menganggap itu sebagai persembahan bagi orang yang sangat dicintainya.”

Meskipun tampak mengumbar selera daya yang rendah dipandang dan tidak banyak  melakukan eksplorasi bahasa yang ketat dan keras, mereka mendapatkan pujian di mana-mana.  Apresiasi terhadap sastrawan perempuan juga besar. Hal ini dapat dibuktikan dengan komentar Sapardi Djoko Damono, saat mengumumkan pemenang lomba menulis roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), beberapa waktu lalu. Menurut Sapardi, pria pengarang payah atau kalah hebat dibanding perempuan pengarang. Itu terbukti dengan dominasi pengarang perempuan yang berhasil merebut juara dalam lomba penulisan roman DKJ. Sebelumnya pujian hebat juga diberikan kepada Ayu Utami untuk Saman karyanya. “Dahsyat…memamerkan teknik komposisi yang sepanjang pengetahuan saya belum dicoba pengarang Indonesia, bahkan mungkin negara lain.”

Besarnya apresiasi para sastrawan terhadap karya-karya yang bahasanya menabrak tabu seks adalah salah suatu indikasi terjadinya pergeseran orientasi estetika dalam dunia sastra Indonesia. Tinggi-rendah nilai sastra tidak lagi ditentukan keberhasilan karya itu menampilkan hakikat tersembunyi dari nilai-nilai humanisme dan eksplorasi bahasa, tetapi lebih pada keberanian si penulis mengungkapkan aneka macam fenomena dan perilaku seks secara telanjang.

BAB III

KESIMPULAN


Pada dasarnya sastra wangi memiliki dampak negatif dan positif. Untuk sebagian orang,  satra wangi merupakan sastra yang terlalu ”vulgar” karena mengangkat tema seks secara gamblang didalamnya sehingga masalah ini menimbulkan pro dan kontra. Sebenarnya disadari atau tidak, sastra wangi banyak memberikan dampak positif bagi kita pembacanya. Jangan sampai pembaca salah dalam menafsirkan makna yang tergandung di dalam cerita. Dalam karyanya, penulis sastra wangi menyisipkan pesan moral yang ingin disampaikan dengan tujuan agar pesan tersebut dapat diterima oleh pembacanya.

Oleh karena itu, masyarakat harus menerima serta membaca karya satra wangi agar menambah wawasan dan memperbaiki pandangan tentang seks yang selama ini dianggap tabuh.

DAFTAR PUSTAKA


http://www.lampungpost.com/cetak/cetak.php?id=2004110706513112

http://www.suaramerdeka.com/harian/0609/03/nas11.htm

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0306/05/hib04.html

http://johnherf.wordpress.com/2008/03/06/karya-sastra-menjawab-tantangan-zaman/

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0411/03/Bentara/1355059.htm

http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=1129&page=3

http://wanasedayu.blog.friendster.com/2006/12/erotisme-dalam-karya-sastra-pengarang-perempuan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s