Resensi Film Twilight

Resensi film twilight


Diangkat dari Novel best seller Twilight, karya Stephenie Meyer

Isabella Swan (Kristen Stewart) , gadis berusia tujuh belas tahun memutuskan tinggal bersama ayahnya di Fork, Washington, kampung halamannya yang adalah kota bercurah hujan paling tinggi di dunia. Bella merasa akan lebih baik jika menemani ayahnya, seorang polisi lokal dibanding menemani ibu dan ayah barunya. Karena berperawakan cantik dan mudah bergaul, Bella bisa dengan mudahnya diterima oleh teman-teman barunya di Forks High School, sekolah barunya. Di luar dugaan, Bella telah membuat Eric, Mike, dan Jacob jatuh hati padanya.

Setelah perkenalan singkat di kelas Biologi, ternyata Bella harus duduk di samping Edward Cullen (Robert Pattinson), pria dingin yang dilihatnya di kantin. Edward adalah salah seorang dari anak angkat dr. Carlisle Cullen (Peter Facinelli), seorang dokter hebat di Forks. Walaupun terlihat membenci Bella, ternyata dia sangat memerhatikan Bella. Ini terbukti dengan kehadiran Edward yang tiba-tiba menyelamatkan Bella dari kecelakaan mobil bahkan merusakkan mobil itu dengan tangan kosong. Hal serupa juga terjadi pada saat Bella diganggu oleh segerombolan pemuda, Edward muncul dengan mobil sedannya.

Bella yang curiga dengan semua kebetulan ini mencari informasi dan mendapatkan kenyataan bahwa Edward, pria yang belakangan ini memenuhi kepalanya adalah vampir, peminum darah hewan (vampir vegetarian), dan immortal (abadi, tidak bisa mati). Namun hal ini tidak membuatnya takut, tetapi membuatnya semakin cinta dengan perbedaan mereka.

Kemampuan Bella untuk menyembunyikan pikirannya dan tidak diketahui orang lain adalah kelebihan yang dimilikinya dan menjadi alasan utama Edward mencintainya. Tak disangka, ternyata kelebihan itulah yang membuat James, vampir ganas peminum darah manusia mengeluarkan hawa ganas yang belum pernah ada selama 300 tahun. James mencium bau Bella, saat Bella memenuhi ajakan keluarga besar Edward (yang semuanya juga adalah vampir) untuk berbaik baseball. Edward dan seluruh anggota keluarganya merasa bersalah dan berjanji akan melakukan apapun untuk menyelamatkan Bella dari James dan teman vampirnya yang juga jahat, Victoria.

Film Catherine Hardwicke ini memiliki kepaduan antara karakter tokoh, alur, setting, hingga musik tema yang menjadi latar beberapa adegan menjadi suatu rangkaian utuh yang luar biasa. Ditambah lagi dengan pergerakan tokoh dengan slow motion di beberapa adegan menegangkan, di lokasi-lokasi yang penuh warna. Kekuataan lain dari film Amerika ini terletak pada pemilihan masalah-masalah, klimaks, dan anti-klimaksnya yang ditampilkan beruntun, sehingga penonton seakan tidak memiliki kesempatan untuk menduga-duga adegan selanjutnya, karena dibawa untuk menikmati satu demi satu adegannya. Film ini dikemas dengan kisah fiksi tentang cinta anak muda, tetapi juga bertema horor dan keluarga. Inilah yang membuat Twilight juga pantas dinikmati oleh orang tua, karena juga bercerita tentang bagaimana menerima perbedaan, ketulusan, dan cinta dalam keluarga. Luar biasa.

Suatu adegan tidak perlu dipaksa dengan pengambilan gambar yang dilakukan di tempat terkenal atau memiliki sejarah, cukup dengan keistimewaan dan ciri khas. Ini dibuktikan dengan adegan-adegan di tempat-tempat sederhana, namun memiliki nilai artistik yang hebat dan tidak pasaran.

Film ini bisa menjadi refleksi bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta, bahwa segala perbedaan yang ada dalam diri masing-masing bukan menjadi penghalang bagi cinta sejati. Selain itu, kita juga diajarkan agar dapat menerima perbedaan dan keputusan orang lain, termasuk orang yang kita sayangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s