Makalah Tinjauan Isi Risalat Hukum Kanun

Makalah Tinjauan Isi Risalat Hukum Kanun (Tugas TSN)

UNIVERSITAS INDONESIA

Risalat Hukum Kanun : Tinjauan Isi

Tugas Mata Kuliah

Tradisi Sastra Nusantara


oleh

Dimaz Kusuma

0806353450

Harliati

080635345

Rima Gustiar N. Putri

0806353671

Yuke Ratna Permatasari

0806353734


Program Studi Indonesia

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia

2009

PENGANTAR


Bahasa Melayu merupakan anggota rumpun bahasa Austronesia dan salah satu bahasa yang terpenting di Indonesia. Selain itu, Bahasa Melayu merupakan bahasa ibu bagi penduduk di beberapa bagian Sumatra Timur, Selatan dan Barat, Jakarta, Kalimantan, Sulawesi Utara, Maluku dan Irian.

Perkembangan Bahasa Melayu di Nusantara berkembang begitu pesat dan menjadi bahasa nasional di beberapa wilayah sejak 1928. Kenyataan ini membuat Bahasa Melayu dipakai untuk menetapkan dan menyampaikan peraturan-peraturan secara lisan dan tulisan.

Dapat diperkirankan Kesusastraan Melayu dalam bentuk tulisan terpelihara dalam bentuk naskah yang tertua pada abad ke-15, dengan penggunaan bahasa sejak zaman Pasai di abad ke-11 dan ke-12. Dalam persebaran kesastraannya, agama Islam mempunyai peranan yang sangat besar dan menjadi bahasa tulis resmi dalam kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, yaitu di Bima dan Ternate.

Hingga sekarang, tidak sedikit kebudayaan berupa bahasa dan peraturan bangsa Melayu yang masih berlaku dalam kehidupan bermasyarakat bangsa Indonesia. Ini terbukti dengan adanya hukum-hukum positif di Indonesia yang berasal dari peraturan-peraturan Bangsa Melayu, walaupun telah banyak mengalami revolusi yang berarti.

Hal inilah yang menarik kami membuat tulisan yang membahas Naskah Risalat Hukum Kanum Undang-Undang Negeri Melayu. Risalat Hukum Kanun selesai ditulis pada tanggal 25 Rabi’ul Akhir tahun 1275 H atau bertepatan pada tanggal 25 Januari 1854 M. Hukum ini ditulis oleh Encik Abdullah. Risalat Hukum Kanun merupakan naskah koleksi H. Von de Wall yang bernomor 55. Naskah ini disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Risalat Hukum Kanun terdapat dalam  katalogus yang disusun van Ronkel pada tahun 1909. Sayangnya, naskah initidak tercantum pada katalogus yang disusun oleh Amir Sutaaraga dkk (1972).

Naskah Risalat Hukum Kanun V. D. Wall 55 berukuran naskah 30 x 20,5. Tiap halaman naskah teridir atas 25-26 baris. Dalam katalogus Behrend (1990), Risalat Hukum Kanun yang bernomer W. 55 disimpan dalam mikrofilm yang bernomor [R#392] Rol 369.04 dengan judul yang sama.

Sudut pandang yang digunakan dalam kitab undang-undang ini sudut pandang raja, orang-orang pembesar, pejabat-pejabat kerajaan, dan orang-orang yang berkuasa lainnya. Karena undang-undang ini dibuat oleh orang-orang yang berkuasa, menurut mereka hukum-hukum ini sudah sesuai dan tepat, sesuai dengan kebutuhan dan keadaan pada masa itu, walaupun tidak sesuai dengan anggapan rakyat secara umum.

RINGKASAN ISI RISALAT HUKUM KANUN


Undang-undang raja-raja Melayu yang berkuasa bertujuan untuk memudahkan pelaksanaan pemerintahan. Undang-undang ini  bertujuan untuk mengatur kehidupan dalam kerajaan dan rakyat. Peraturan-peraturan untuk kerajaan berupa kewajiban dalam sidang, bahasa, dan peraturan lain. sedangkan untuk rakyat mengatur hubungan satu dengan yang lain, yaitu pembunuhan, perzinahan, penculikan, penuduhan, perbuatan jahat, dan hasil panen. Beberapa bagian dalam undang-undang ini menunjukkan bahwa pemuka-pemuka pemerintahan sudah mengenal dan mengatur mufakat. Raja mengangkat menteri, pembesar kerajaan-kerajaan dan bendahara, yaitu orang yang memegang harta benda kerajaan.

Hukum-hukum ini terbagi atas tiga bagian berupa peraturan perbendaharaan, pembesar kerajaan dan kepala pelabuhan.

Pasal Pertama

Berupa peraturan yang mengatur tata karma yang berlaku dalam kerajaan, berupa penggunaan bahasa dalam perkataan dan penggunaan pakaian di hadapan raja. Adapun sanksi yang dikenakan kepada orang yang melanggarnya adalah hukuman mati.

Pasal Kedua

Berupa peraturan tentang bahasa dan perkataan raja dan rakyat. Peraturan ini anugrah dan bersifat seperti hukum positif, berlaku sesuai tempat dan waktunya sehingga jika dilanggar di rumah atau di kampung halaman, tidak akan dikenakan hukuman secara langsung dan bisa dimaafkan. Tetapi jika dilanggar di depan raja, orang yang melanggar akan dikenakan hukuman mati.

Pasal Ketiga

Berupa peraturan tentang perlengkapan pemakaman. Pada saat pemakaman orang-orang besar dan kaya tidak diperbolehkan menggunakan alat-alat yang terbuat dari emas karena akan membuat raja marah. Mulai dari pakaian, sapu tangan, dan payung yang digunakan harus yang biasa-biasa saja.

Pasal Keempat

Berupa peraturan tentang kekerasan berupa pemfitnahan, pemukulan, dan pembunuhan. Jika hal-hal itu terjadi,orang yang menjadi pelakunya akan diampuni, atau setidaknya akan diberi hukuman berupa denda.

Pasal Kelima

Berupa peraturan tentang pembuat kegaduhan atau mengamuk akan dibunuh, sebagai hukuman atas kesalahannya.

Pasal Keenam

Berupa peraturan tentang pembunuhan. Jika seseorang membunuh hamba raja, dia hanya akan diberi denda. Begitu pula dengan membunuh hamba bendahara, walaupun besar dendanya berbeda. Jika seseorang merebut istri orang lain, dia akan ditangkap lalu dibunuh. Inilah yang berupa Kanun.

Pasal Ketujuh

Berupa peraturan tentang tata krama di kalangan rakyat. Hukuman-hukuman untuk orang yang menampar atau memaki orang lain akan dikenakan denda atau hukuman mati. Inilah yang berupa Kanun.

Pasal Kedelapan

Berupa peraturan untuk membunuh orang. Seseorang bisa membunuh di lima, dan tidak akan dikenakan hukuman. Orang-orang yang boleh membunuh adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi, seperti bendahara, orang yang mempunyai anak sungai, temenggung atau pemuka pemerintahan, syahbandar, dan nakhoda. Walaupun demikian, hal-hal ini hanya boleh mereka lakukan di tempat dan waktu tertentu. Ini merupakan hukum positif.

Pasal Kesembilan

Berupa peraturan tentang pembayaran utang.

Pasal Kesepuluh

Pada pasal kesepuluh ini membahas mengenai hukum bagi orang yang mencuri. Dalam hukum ini juga tidak disalahkan jika seorang pencuri dibunuh. Namun jika bertemu dengan seorang pencuri pada beberapa hari setelah pencuri tersebut melakukan aksinya maka pencuri tersebut tidap boleh dibunuh melainkan dibawa kehadapan hakim.

Pada pasal ini juga membahas mengenai hukum bagi pencuri tanaman: tebu, pisang atau nyiur, inang  atau sirih dan buah-buahan. Selain itu hukum bagi seseorang yang mencuri perahu dan mencuri kerbau atau lembu juga tertera dengan jelas dalam pasal kesepuluh ini.

Pasal Kesebelas

Pada pasal kesebelas ini membahas mengenai hukum bagi orang yang selingkuh (menawar anak istri orang). Bagi seorang istri yang selingkuh kemudian diketahui oleh suaminya maka suaminya tidak boleh membunuh istrinya melainkan harus dibawa di hadapan majelis dan diberi hukuman denda. Dalam pasal ini juga membahas mengenai hukum bagi orang yang menuduh orang lain berzina akan dikenakan hukuman denda.

Pasal Kedua Belas

Pada pasal ini membahas mengenai hukum bagi orang yang melarikan diri (budak) ataupun orang yang menyembunyikannya. Hukumannya adalah denda. Selain itu hukum bagi orang yang menjual titah raja-raja juga dijelaskan dalam pasal ini. Hukumannya adalah dibunuh atau dibelah lidahnya atau dikupas kulit kepalanya dan hukuman bagi orang yang berdusta akan dicoreng wajahnya dan dikenakan denda.

Pasal Ketiga Belas

Pada pasal ini membahas mengenai hukum bagi orang yang melakukan tuduhan dan penyangkalan di hadapan hakim. Disini juga dijelaskan akan hukum Allah yang menjelaskan bahwa jikalau seseorang menuduh maka seseorang bersangkal, maka disuruh bersumpah menjawat mimbar. Jikalau ia tidak mau bersumpah maka disuruh memberi hak orang. Jika orang yang melakukan kesalahan sangat besar maka hukumannya adalah dibunuh dan jika tidak banyak salahnya maka hukumannya adalah didenda atau ditampar. Jika penuduh mengambil istri orang maka hukumannya adalah dibunuh.

Pasal Keempat Belas

Pada pasal ini menjelaskan tentang hukum upahan naik kayu dan menebang kayu perhumaan. Jika seorang hamba meninggal pada saat melakukuan pekerjaan naik kayu dan tidak diketahui tuannya maka di denda sepenuh harganya. Namun jika diketahui tuannya makadi dena separuh harganya. Selain itu ada juga hukum jika meminjam kerbau, kambing, atau lembu maka ditentukan matinya dan hidupnya, maka mati ia tidak mengganti lagi. Dijelaskan pula Kitab Kanun ini diperbuat untuk menghukumkan segala perbuatan yang salah dan yang benar. Di sini dijelaskan pula hukum zinah.

Pasal Kelima Belas

Pada pasal ini menjelaskan tentang hukum peduli dan hukum fitnah. Dijelaskan tentang tiga perkara yang dapat kita peduli yakni, orang membunuh madu krena lemahnya harus kita peduli, sahabat yang baik atas jalan yang benar itupun dapat kita peduli, orang teraniaya orang besar-besar sebab budak tiada tahu berkata-kata atau tidak dapat melawan seteru lawannya maka dapat kita peduli tolong. Jika orang yang tergolong dalam peduli itu berbuat salah yang besar hukumannya lima tahil sepaha, sedangkan hukumannya denda dua tahil sepaha, sedikit-dikitnya hukumannya adalah setahil sepaha.

Pasal Keenam Belas

Pada pasal ini membahas tentang hukum bagi seseorang yang mengambil upah dari membunuh orang, menampar orang ataupun memalu orang.

Pasal Ketujuh Belas

Pada pasal ini menerangkan tentang hukum angkara. Pasal ini menjelaskan hukum kawin seorang sahaya dengan seorang perempuan yang merdeka. selain itu pasal ini juga berisi tentang hukuman jika seseorang meminum tuwak atau arak.

Pasal Kedelapan Belas

Pasal ini tentang hukum buah-buahan dalam kampung. Jika seseorang mempunyai buah-buahan harus dinikmati bersama sedangkan jika buah-buahan itu akan dijual makan pemilik tanah harus mendapatkan bagian dari hasil penjualan itu.

Pasal Kesembilan Belas

Pasal ini berisi tentang:

  • Hukum pertanian yaitu tentang pembagian jenis tanah yaitu tanah hidup (tanah yang mempunyai pemilik) dan tanah mati (tanah yang tidak ada pemiliknya).
  • Hukum memelihara dan menjaga hewan ternak.
  • Hukum pelayaran.
  • Hukum cerai antara laki-laki dan perempuan yang boleh dilakukan atas beberapa alasan.

Pada halaman selanjutnya (halaman 30-38), dijelaskan beberapa perkara di luar 19 pasal yang ada di halaman sebelumnya. Perkara tersebut memaparkan beberapa peraturan yang masih ada hubungannya dengan adat istiadat yang ada dalam hukum kitab kanun. Berikut adalah perinciannya:

Perkara tersebut berisi tentang:

1.)  Tata cara kehidupan kalangan raja saat berpergian menggunakan perahu, aturan dalam berpakaian untuk kalangan kerajaan dan kalangan luar kerajaan, dan adat bercakap-cakap

2.)  Adat saat kalangna bangsawamn meninggal dunia

3.)  Adat saat kalangan raja memiliki putra

4.)  Tata cara menghadap raja

5.)  Urutan/tingkatan petugas-petugas raja beserta kedudukannya dalam kehidupan istana

Pada bagian penutup terdapat kolofon yang terdiri dari dua bentuk, yaitu bentukprosa dan syair. Dalam kolofon berbentuk prosa, dituliskan tanggal selesainnya penulisan naskah dalam penanggalan hijriyah (25 Rabiul Akhir 1275 H), sedangkan dalam kolofon yang berbentuk prosa, tanggal selesainya penulisan naskah ditulis dalam penanggalan masehi (25 Januari 1854).

PEMBAHASAN

Risalat Hukum Kanun adalah suatu kitab yang berisi kumpulan hukum tentang kehidupan adat Temenggung. Hukum ini terbagi atas 19 pasal yang di dalamnya terkandung akulturasi kebudayaan Islam dan Hindu. Ini terbukti dari adanya sistem kasta dan penggunaan doa pembuka dalam bahasa Arab pada awal penjelasan hukum kanun.

Bahasa yang digunakan dalam Risalat Hukum Kanun adalah bahasa melayu yang ditulis dengan menggunakan huruf arab-jawi. Dalam translliterasinya ada beberapa kata yang tidak diketahui maksud dari kata itu tetapi dalam transliterasi merupakan hal yang wajar. Dalam Risalat Hukum Kanun juga terdapat beberapa ayat Al-Qur’an seperti dalam pasal 13.

Walaupun pada akhir naskah ini berisi syair-syair, tapi syair itu tetap berisi tentang penegasan kepada isi Hukum Kanun seperti “Karena raja laksana kembang, rakyat sekalian seumpama kumbang” dalam syair ini digambarkan bahwa rakyat seperti kumbang yang selalu akan mengikuti perintah raja yang diumpamakan seperti bunga.

Hukum kanun berbeda dengan hukum Islam. Ada perbedaan berat hukuman antara berbagai status, seperti jika seseorang minum tuak dan arak akan dipalu empat puluh kali, sedangkan jika ia merdeka dan jika ia abdi orang hanya dipalu dua puluh kali. Dalam hukum ini jelas sekali bahwa budak memiliki strata yang paling bawah dan jika mendapatkan hukuman, ia mendapatkan hukuman yang berat dibandingkan dengan yang memiliki strata diatasnya.

Dalam isi hukum ini juga terdapat tata cara adat saat ada hari raya besar. Dijelaskan tata cara urutan saat raja ingin keluar dari mesjid hingga raja meninggalkan mesjid tersebut. selain itu juga dijelaskan tata cara saat hulubalang ingin bertemu dengan raja.

Dalam Kitab ini dijelaskan bahwa raja memiliki kekuasaan penuh atas peraturan-peraturan yang ada. Sistem balas dendam pun diperbolehkan dalam hukum ini dengan alasan-alasan tertentu. Selain itu, hal menarik yang terlihat dalam hukum ini yaitu dalam hukum ini terkandung kepercayaan terhadap hukum karma, seperti jika ada seseorang ditampar maka hukuman balasannya untuk orang yang menampar adalah tamparan pula.

Walaupun sebagian besar naskah ini berisi tentang hukum-hukum yang mengatur kehidupan kerajaan dan rakyat secara tegas, namun pada akhir naskah terlihat unsur estetika di bidang sastra yang ditunjukkan dengan adanya penggunaan rima dalam syair naskah tersebut. Contohnya: “…Barang siapa memegang negeri, hukum dan adat tuan pelajari”, dan “ …Hukum dan adat jangan berpindah titah perintah jangan nak gundah”, serta masih banyak lagi contoh kalimat syair yang lainnya.

Dalam syair ini penulis juga mencantumkan namanya seperti  “…Syair yang sedikit ini Baharu dikarang, Encik Abdullah namanya disebut orang.” Dalam syair ini juga dicantumkan tahun pembuatan dalam versi hijriah dan masehi, hal ini menunjukkan bahwa pada masa itu kedua sistem penanggalan sudah dikenal oleh masyarakat.

Dalam kitab ini segala bentuk pelanggaran dikenakan denda berupa bayaran menggunakan emas. Hal ini menunjukan bahwa pada masa itu emas digunakan sebagai alat pembayaran.

Ditinjau dari sisi penggunaan bahasa, bahasa Melayu pada saat itu sangat berbeda jika dibandingkan dengan penggunaan bahasa Melayu saat ini. Penggunaan bahasa Melayu pada zaman dahulu cenderung berbelit-belit karena kalimatnya terlalu panjang dan jarang menggunakan tanda baca titik. Oleh karena itu, pembaca pada zaman sekarang mengalami kesulitan dalam memahami maksud yang ingin disampaikan oleh tulisan tersebut.

Dilihat dari isi keseluruhan naskah ini, dapat tergambar bahwa masyarakat Melayu pada masa itu hidup dalam peraturan yang ketat dan kental akan dominasi kalangan raja dan kaum bangsawan.

Para bangsawan atau kalangan kerajaan mempunyai beberapa hak istimewa yang tidak dipunyai oleh masyarakat dengan status sosial biasa. Misalnya saja pada pasal 1 disebutkan bahwa kalangan kerajaan berhak mengenakan pakaian berwarna kuning atau bertabur emas atau bersutra halus, sedangkan untuk masyarakat di luar kalangan kerajaan dilarang keras mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakai oleh kalangan kerajaan.

Berdasarkan hal tersebut dapat dirasakan perbedaan yang signifikan antara masyarakat dengan status sosial tinggi dan masyarakat dengan status sosial rendah. Maka dengan adanya perbedaan tesebut menimbulkan kesan bahwa pada masa itu masyarakat terbagi dalam strata-strata sosial yang berbeda hak dan kewajibannya, seperti halnya sistem kasta dalam agama Hindu.

KESIMPULAN

Menurut pendapat kelompok kami, Risalat Hukum Kanun merupakan suatu kitab yang berisi kumpulan peraturan adat Temenggung yang mengatur kehidupan masyarakat Melayu pada masa itu dengan tegas. Dalam beberapa pasal yang terkandung dalam undang-undang ini, mencerminkan adanya akulturasi budaya Islam dan Hindu. Selain itu, dalam kitab ini segala aspek dalam kehidupan masyarakatnya diatur secara tegas. Ada sepuluh contoh kejahatan yang hukumannya adalah hukuman mati. Diantaranya adalah bertuduh-tuduhan, menjual titah, berzina, dan seterusnya.

Dengan diberlakukannya hukuman mati tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa sistem hukuman yang diberlakukan mengadaptasi dari sistem hukum agama Hindu. Hal lain yang diadaptasi dari agama Hindu adalah adanya tingkatan-tingkatan yang menyerupai sistem kasta. Dalam hukum ini dijelaskan bahwa seseorang yang melakukan kejahatan tinggi, maka semakin berat hukuman yang harus ditanggungnya. Tetapi di satu sisi ada kepincangan keadilan, yaitu hukuman bagi kalangan yang status sosialnya tinggi dibedakan dengan orang yang status sosialnya lebih rendah. Hal itu menyebabkan kesimpang-siuran peraturan hukum yang berlaku pada zaman pertengahan Malaka tersebut.

Dengan demikian, terlihat jelas bahwa hukuman menurut adat sangat berbeda dengan hukum syariat. Dalam kitab ini diterangkan bahwa seseorang dapat memperjualbelikan manusia sebagai budak, dan apabila budak belian tersebut melakukan perbuatan yang tidak diinginkan sang majikan, maka sang majikan tidak dilarang untuk membunuh budak tersebut sebagai hukumannya, dan sang majikan hanya mengganti budak tersebut dengan membayar setengah harga budak.

Di lain pihak, hukum Islam tidak memberi ampun atas perbuatan jahat dengan alasan apa pun, misalnya membunuh, memenggal, dan berbagai hukuman lain yang melanggar hak asasi manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Hassan, Tjiptaningrum Fuad, Risalat Hukum Kanun Undang-Undang Negeri Melayu, Yayasan Naskah Nusantara, Fakutas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, 2008.

Ikram, Achadiati, A. B. Lapian, dkk. Penelitian Sastra Melayu Riau, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan, Jakarta, 1991.

Iskandar, DR. Teuku, Kamus Dewan, Perchetakan Art Kuala Lumpur, Kuala Lumpur, 1970.

Tim Penyusun Kamus Bahasa Melayu Nusantara, Kamus Bahasa Melayu Nusantara, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian dan Kebudayaan, Bandar Seri Bengawan, 2003.

One thought on “Makalah Tinjauan Isi Risalat Hukum Kanun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s