Anak Kecil yang Paling Hebat

Tugas MK Sastra Anak

Harliati

0806353545

Prodi Sastra Indonesia

ANAK KECIL YANG PALING HEBAT

Masa kecil memang masa yang paling menyenangkan, saat dunia terasa milikku seorang, saat bebas melakukan apa saja yang aku mau, saat benda yang paling berharga untukku adalah permen, coklat, dan boneka. Setiap hari aku bisa bermain di mana saja. Di sekolah, di rumah, atau bersama tetangga di kompleks. Tapi di antara semua tempat yang aku sebutkan, tidak ada tempat seindah di kampungku, Tana Toraja.

Setiap setahun sekali, aku dan keluargaku selalu pulang ke kampung, sekitar 8jam dari Makassar. Biasanya kami berangkat dengan bus antarkota. Sepanjang perjalanan, Ibu menyebutkan nama kabupaten dan kota yang kami lewati, mulai dari Maros, Pare-Pare, Sidrap, Rappang, Enrekang, lalu sampailah kami di Toraja.

Setelah melewati dengan pertokoan di kota, sungai, dan gunung, sampailah kami di Sa’dan, sebuah kecamatan yang penduduknya hidup berkelompok bersama keluarga besar. Karena bus hanya dapat mengantar kami sampai di kaki gunung, maka kami harus berjalan kaki mendaki sampai di rumah Nenek. Udara sejuk menembus jaket dan bajuku, menyentuh kulit dan membuat ciri khas kampung terasa, membuatku tersenyum. Aku dan saudara-saudaraku selalu berlomba untuk sampai ke rumah Nenek. Kami berteriak-teriak memanggil Nenek untuk keluar dari rumah dan menjemput kami, bahkan saat kami masih berada sekitar dua puluh meter dari rumah. Saat bertemu Nenek, kami selalu berebutan untuk memeluk dan mencium Nenek, siapa yang paling duluan pasti curang memeluk Nenek paling lama.

Saat masuk ke dalam rumah Nenek, telapak kaki terasa dingin karena lantainya hanya semen tanpa tegel. Nenek sudah memotong ayamnya, membuatkan sayur daun singkong yang dimasak dengan ayam. Ada teh hangat, ada juga jambu air dari pohon di belakang rumah. Sehabis makan aku dan saudara-saudaraku sudah tidak berada di dalam rumah lagi. Kami berkeliling dari rumah ke rumah untuk menyalami nenek-nenek dan kakek-kakek, saudara Nenekku. Kakak-kakak lelakiku sibuk mengganggu kerbau dan babi milik tetangga, sedangkan aku mencabut cokelat dan merica nenek. Hal yang tidak kalah serunya adalah mengejar-ngejar ayam-ayam Nenek dan tetangga. Memang pasti akan dimarahi Ibu jika ketahuan, makanya aku mencari cara supaya Ibu tidak tahu. Siang hari memang paling enak bermain di luar rumah. Kami diajak petani untuk ikut ke sawah mencari suso, sejenis siput sawah dan jambu klutuk, tapi harus hati-hati dengan lebah yang sewaktu-waktu bisa menyengat.

Saat sore hari tiba, Nenek selalu memasak air untuk dipakai mandi. Tentu saja selalu kuganggu, karena tempat favoritku di rumah Nenek adalah dapur. Dapur kami benar-benar dapur kampung, tidak memakai gas untuk menyalakan api, tetapi kayu bakar. Caranya adalah menumpuk kayu bakar, mencampurkan serutan kayu, lalu memberikan api dari korek api. Setelah itu apinya kutiup pelan-pelan dengan alat seperti suling.

Sehabis mandi, senja belum berakhir. Aku bermain di bawah lumbung padi yang berderet dari ujung hingga ujung. Melompat-lompat, memukul-mukul pilar lumbung seperti menabuh gendang, dan menyanyi-nyanyi sampai Ibu membawakan kue dan teh, pisang goreng dari tetangga juga menemani senja di kampung. Sekitar pukul 6, kami semua masuk ke dalam rumah dan berkumpul, bercerita hingga waktu makan malam tiba. Karena di kampung hanya ada 1 siaran dan itu berita, walaupun televisi dinyalakan kami tidak mau menonton. Aku, Kakak, dan Ayah duduk-duduk di kursi rotan yang ada di samping rumah. Semua memakai sarung dan kaos kaki. Di sekeliling rumah gelap, hanya ada beberapa lampu rumah tetangga dan kunang-kunang yang hilir-mudik mencuri perhatian siapa saja yang melihatnya. Rasa lelah seharian menempuh perjalanan jauh dan bermain mengelilingi kampung hilang begitu saja melihat pemandangan malam, menandakan tenaga kami tidak ada habisnya.

Hari kedua baru dimulai, seolah kami mendahului kokokan ayam. Ibu sudah ada di dapur, sedangkan yang lainnya masih tidur. Aku dan kakak keluar dari rumah karena kami mau bermain dengan rumput yang masih basah karena embun. Hal yang lebih mengasikkan adalah kami berlomba bernafas lewat mulut, karena udara yang sangat dingin, dari mulut akan keluar asap. Sepanjang pagi hal yang menarik yang dapat dilakukan adalah naik ke tingkat gunung, mencari buah apa saja yang dimakan. Waktu selesai sarapan, Ayah dan Ibu mengajak kami turun ke sungai. Air jernih dan sejuk mengundang anak-anak desa seusiaku juga mandi. Tidak ada yang peduli dengan terik matahari yang bergabung dengan sejuknya air sungai hingga akhirnya kami menyerah karena menggigil. Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah memakan songkolo (nasi ketan yang dibubuhi kelapa sangrai), ikan asin, dan sambel. Hari ini memang sangat indah.

Agenda di kampung halaman belum juga ada habisnya. Seusai mandi di sungai, kami datang ke pesta rakyat, upacara kematian masyarakat Toraja. Sebidang tanah lapang ‘disihir’ menjadi kompleks lantang. Begitu ramai para kerabat dan masyarakat di sekitar Sa’dan datang menghadiri upacara. Puluhan kerbau dan babi sedang menunggu giliran dipotong, sedangkan tamu-tamu sudah dipersilahkan untuk masuk ke dalam lantang, disuguhkan minuman dan berbagai macam makanan, dari kue, buah, hingga makanan utama.

Di samping-samping lantang banyak penjual permen, minuman, balon, es, dan semua jajanan kesukaanku. Sebelum masuk ke lantang aku duduk di samping Nenekku yang sangat kusayang itu, dan meminta uang untuk membeli minuman kaleng dan balon. Nenek tidak hanya memberiku uang tapi juga mengambilkan kue yang sangat banyak untuk kusimpan di tasku. Dalam hati aku berpikir, akulah anak kecil yang paling hebat.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s