Badong Sebuah Tari dan Nyanyian Kedukaan di Tana Toraja

UNIVERSITAS INDONESIA

MAKALAH SASTRA LISAN


TRADISI SASTRA NUSANTARA


BADONG

SEBUAH TARI DAN NYANYIAN KEDUKAAN

DI TANA TORAJA


NAMA : HARLIATI

NPM : 0806353545


FAKULTAS ILMU DAN BUDAYA

PROGRAM STUDI INDONESIA

JUNI, 2009


BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang


Kepercayaan Terhadap Alam Kehidupan Setelah Mati

Ajaran Aluk Todolo (kepercayaan asli penduduk Toraja yang intinya adalah kepercayaan terhadap dewa-dewa dan roh leluhur) menurut orang Toraja berisi konsep kepercayaan terhadap alam kehidupan setelah mati. Ajaran ini menganggap bahwa arwah seseorang setelah mati tidak hilang begitu saja melainkan kembali ke suatu tempat yang dianggap sebagai alam arwah atau sebagai tempat asal-usul leluhur mereka. Konsep kepercayaan ini kemudian diimplementasikan dalam sistem upacara terutama upacara yang berkaitan dengan kematian (Rambu Solok) dan sistem penguburan.

Secara umum tujuan dari upacara yang termasuk kelompok Rambu Solo adalah untuk keselamatan arwah leluhur di alam baka dan kesejahteraan serta keselamatan manusia di dunia.

Kepercayaan Terhadap Arwah Leluhur

Hubungan antara orang hidup dengan orang yang telah meninggal tidak hanya bersifat searah akan melainkan bersifat timbal-balik karena keselamatan arwah para leluhur juga sangat ditentukan oleh perlakuan dari kerabat atau masyarakat yang ditinggalkannya. Keselamatan arwah leluhur di alam baka sangat tergantung kepada pemenuhan syarat-syarat yang dibutuhkan sesuai dengan ketentuan adat, seperti berbagai tahapan upacara, bekal berupa korban persembahan dan bekal kubur, dan perlakuan-perlakuan lainnya setelah seseorang meninggal.

Berdasarkan konsep kepercayaan tersebut, maka dalam menjalankan berbagai upacara dan ritual kedukaan dalam pesta adat, Rambu Solo dengan berbagai ritual di dalamnya.

Tujuan Penulisan

Makalah ini dibuat dengan tujuan mengenal, mengetahui, dan melestarikan upacara adat dan kebudayaan, berupa tradisi sastra lisan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, yaitu badong. Hal ini didorong oleh kesadaran akan betapa unik dan indahnya sebuah tradisi lisan di sebuah upacara kedukaan begitu kaya dengan nilai budaya.

Selain itu, penulis menyadari kurangnya pengetahuan dan penyaluran ilmu tentang kebudayaan Tana Toraja berupa buku dan makalah, untuk menjadi pegangan dan pembelajaran bagi mahasiswa Universitas Indonesia, khususnya bagi mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia.

Landasan Teori

Folklor menurut Jan Harold Brunvand adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau pembantu pengingat (mnemonic device).

Rambu Solo (Upacara Pemakaman) adalah adat istiadat yang telah diwarisi oleh masyarakat Toraja secara turun temurun ini, mewajibkan keluarga yang ditinggal membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi.

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Badong

Badong adalah sebuah tarian dan nyanyian kedukaan berisi syair dukacita yang diadakan di upacara (pesta) kematian di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tarian Badong dilakukan secara berkelompok oleh pria dan wanita setengah baya atau tua dengan cara membentuk lingkaran besar dan bergerak.

Ma’ berarti ‘melakukan’ dan pa’ berarti pelaku, sehingga ma’badong berarti melakukan tarian dan nyanyian badong, dan pa’badong berarti penari badong.

Deskripsi Badong

Badong dilakukan di setiap upacara kematian di Tana Toraja, dan dilakukan di tanah lapang atau pelataran yang cukup luas, yaitu di tengah-tengah lantang (rumah adat yang hanya dibuat untuk sekali pakai pada saat acara pesta kematian.

Pa’badong memakai baju seragam, biasanya hitam-hitam dan memakai sarung hitam atau memakai pakaian adat toraja. Jumlah penari dapat mencapai puluhan hingga ratusan orang, sehingga pria memakai seragam yang berbeda dengan para penari wanita. Terkadang para pria dan wanita juga mengenakan pakaian adat Toraja. Tetapi, karena badong juga terbuka untuk orang yang ingin ikut menari, jadi tamu upacara kematian yang ingin ikut ma’badong diperbolehkan berpakaian bebas.

Pada saat ma’badong, semua anggota tubuh pada pa’badong juga bergerak, seperti menggerakkan kepala ke depan dan ke belakang, bahu maju-mundur dan ke kiri-ke kanan, kedua lengan diayunkan serentak ke depan dan belakang, tangan saling bergandengan lalu hanya dengan jari kelingking, kaki disepakkan ke depan dan belakang secara bergantian.

Lingkaran besar yang diciptakan pada saat ma’badong dalam beberapa saat dipersempit dengan cara para pa’badong maju, lalu mundur kembali dan pemperluas lingkaran dan saling berputar dan berganti posisi, tetapi tidak bertukar pa’badong lain yang di sisi kanan atau kirinya.

Suara yang mengiringi tarian badong adalah nyanyian para pa’badong, tanpa iringan suara musik. Nyanyian yang dinyanyikan adalah lagu dalam bahasa Toraja, yang berupa syair (Kadong Badong) cerita riwayat hidup dan perjalanan kehidupan orang yang meninggal dunia, mulai dari lahir hingga meninggal. Selain syair tentang riwayat hidup, badong pada saat upacara kematian juga berisi doa, agar arwah orang yang meninggal bisa diterima di alam baka.

Pada umumnya, ma’badong berlangsung selama tiga hari tiga malam, karena pada umumya upacara kematian di Toraja berlangsung selama itu, tetapi tidak dilakukan sepanjang hari. Pada upacara kematian yang berlangsung selama lima hari dan tujuh hari, ma’badong dilangsungkan dengan waktu yang berbeda pula, sesuai dengan keinginan pa’badong dan persetujuan keluarga.

Pelaksaan upacara kematian di Tana Toraja hanya dilakukan oleh keturunan raja dan bangsawan, serta keluarga dengan status sosial yang tinggi, yaitu mereka yang memiliki banyak harta kekayaan. Hal inilah yang menyebabkan badong hanya dilakukan oleh golongan masyarakat yang kaya, walaupun dalam kenyataannya mereka sebagai penyelenggara, penari badong sendiri adalah keluarga dan masyarakat umum yang dengan sukarela ingin mendoakan orang yang meninggal pada saat itu.

Penari badong biasanya adalah masyarakat asli Tana Toraja yang sudah lama bermukim di Toraja dan sudah mengenal kuat kebudayaan Tana Toraja, hingga mereka tidak mengalami kesulitan dalam menyanyikan syair ini. Selain itu, karena upacara kematian masih sering diadakan, masyarakat Tana Toraja tidak canggung dan dapat ma’badong dengan baik dan  lancar.

Selain ma’badong, biasanya di upacara kematian Tana Toraja juga ada tari ma’gellu (tarian tradisional Tana Toraja), pengenalan keluarga yang berduka cita, pengenalan kerbau bonga (belang) dan kerbau biasa yang disembelih, mapasilaga tedong (beradu kerbau, yang nantinya akan disembelih sebagai pengantar arwah orang yang meninggal menuju surga), pengarakan peti menuju tempat yang disediakan, penaburan uang logam untuk diperebutkan oleh tamu upacara, dan pembakaran kerbau dan babi sembelihan yang nantinya akan dibagi kepada keluarga, tamu,  dan masyarakat umum, dan ritual-ritual lainnya.

Tata Cara Pelaksanaan Badong

Sebelum upacara diadakan, yaitu pada saat persiapan upacara, para anggota keluarga yang berduka cita memilih siapa saja yang akan menjadi pa’badong untuk upacara kematian, yaitu keluarga, sanak saudara, rekan, tetangga, dan orang lain.

Hingga pada saat upacara kematian berlangsung, orang-orang yang telah ditentukan sebelumnya menuju tempat yang telah ditentukan, pada saat yang sudah ditentukan pula.

Para pa’badong berdiri dan saling menunggu teman yang lain berada di posisi masing-masing, lalu pemimpin badong (pemberi aba-aba yang dipilih dari pa’badong-pa’badong) memberikan aba-aba untuk memulai tarian mereka.

Pada awal ma’badong, para pa’badong menyanyikan empat badong secara berturut-turut sesuai dengan fungsinya, yaitu badong nasihat, badong ratapan, badong berarak, dan badong selamat (berkat). Setelah itu, dilanjutkan oleh para pa’badong yang sudah menyiapkan doa dan nyanyian riwayat hidup yang sudah dipersiapkan. Jika tiba waktu yang telah ditentukan, namun syair badong, doa, dan nyanyian riwayat hidup belum selesai, para pa’badong akan berhenti secara bersamaan dan mereka kembali ke lantang (rumah papan dan kayu yang digunakan hanya untuk upacara) untuk beristirahat, hingga pada waktu yang mereka rencanakan bersama, mereka akan ma’badong lagi.

Cara ini berlangsung hingga tarian dan nyanyian pa’badong selesai dan upacara kematian juga selesai.

Formula Badong

Banyak hal yang telah menjadi keharusan sebagai tata baku dalam upacara badong. Di antaranya adalah sebagai berikut :

Untuk membentuk lingkaran sebagai nyanyian doa, penari badong paling sedikit harus berjumlah lima orang.

Syair lagu badong adalah syair yang sudah terstruktur sesuai dengan keempat fungsi ditambahkan dengan riwayat hidup orang yang meninggal dunia.

Badong dilaksanakan di upacara pemakaman di lapangan terbuka yang dikelilingi lantang (rumah adat).

Badong dilaksanakan oleh pria dan wanita dewasa.

Badong hanya dilakukan di upacara kematian dan bersifat sakral, bukan untuk permainan sehingga tidak akan dilakukan di upacara yang lain.

Rangkaian gerakan badong berupa gerakan kepala, pundak, tangan, dan kaki, serta perputarannya tidak mengalami perubahan dan variasi, tetapi berupa tata cara yang masih sama dengan yang diwariskan turun-temurun.

Fungsi Badong

Fungsi Badong adalah dibagi dalam empat bagian, yaitu badong pa’ pakilala (badong nasihat), badong umbating (badong ratapan), badong ma’ palao (badong berarak), dan badong pasakke (badong selamat atau berkat).

Badong pa’ pakilala

 

 

E..! Umbamira sangtondokta ?

To mai sangbanuanta ?

Sangti’ doan tarampakta ?

Ke de’ ko anta umbanting !

Rapana ta’ rio-rio,

Tatannun rosso maa.

Tang marandenkoka iko ?

Tae’ko dallo riomu ?

Lako te datu masallo’ ?

Ambe’ perangikan mati’,

Ambe’ tanding talingakan,

Angki lolloan batingki.

Ke umpokadaki’ bating,

Untannun mario-rio ;

Da’ tabarrugai bating,

Da’ talalan peninggoi.

Umbating tengki’ siada’,

Rintin sipakilalaki’ ;

Tae’ki’ lindona senga’,

Rampo ma’kekeran bassi.

Da’ anta lambi bating ru’seng,’

Tu rintin pa’ealian ;

Anta masakke mairi’,

Madariding sola nasang.

Badong umbating

Tonna masaki ulunna,

Tiku ramman beluakna ;

Nenne’ samandu-mandunna,

Kerangan umbongi-bongi.

Samari tampak sarrona,

Te upu’ pekaindo’na ;

Ka’tu angin dipudukna,

Ronta’ tondon to batanga.

Sokan sokannamo ia,

Te dao nene’ mendeatanta ;

Sola to dolo kapuanganta,

Unnamboran tinaranna.

Namboran salarika,

Nasio’ tang tongan dika ;

Dengka tau tang nabasa,

Tang nalulun baratai ?

La ditulakraka langi’,

La dimnangairika ? ;

Sokan2 ia Nene’,

Tang ma’ga’ta’ to dolota.

Ke napapatui lenki’,

Ke nasanda simisa’ki’ ;

Sanda’2 dilempangan,

Pangkun dipentilendungan.

Tallang turanannaki’ Puang,

Awo’ bela’-belaranna ;

Aur tebas-tebasannya ;

Ke disaile sulei,

La dibandika menasan.

Inde dao to tungara,

Rintin to mennulu sau’ ;

Umpolo bintanna Sali,

Sirundu’ karasan tanga.

Malemi situru’ gaun,

Sikaloli’ rambu ruaja ;

Naempa-empa salebu’,

Sau’ tondok Pong Lalondong.

Unnola tossoan Adang,

Panta’daran Tau bunga’ ;

Dadi deatami lolo’,

Kombongmi to palullungan.

La umbengki’ tua’ sanda,

Paraja sanda’ mairi’ ;

Anta masakke mairi’,

Madarinding sola nasang.

Badong ma’palao

Tiromi tu tau tongan,

Tu to natampa puangna ;

Tae’ sanglindo susinna,

Sanginto’ rupa-rupanna.

Pada ditampa bintun tasak ;

Pada dikombang bunga’ lalan ;

Sumbang bulan naesungi,

Kurapak allo natadongkonni.

Mallulun padang naola,

Umpamampu’ padang2 ;

Buda kinallo lalanna,

Dikki’ barra’ karunna.

Malemi naturu’ gaun,

Naempa-empa salebu’ ;

Sau’ tondok Pong Lalondong.

Ilo’ bambana makkun.

La sangtondok to dolona,

Sangisungan to menggaraganna ;

Ia nasang mintu’ tau,

Mairi’ sangtolinoan.

Badong passakke

Sampa’ batingkira tondo,

Pango’tonan marioki ;

Napokinallo ilalan,

Sau’ rumombena langi’.

Sau’ tondok Pong Lalondong,

Ilo’ tondok to Mario ;

Ganna’ sampin pebalunna,

Sukku’ todeng tunuanna.

Nariamo tangkean suru’,

Nasaladan kada rapa’ ;

Anta masakke mairi’,

Madarinding sola nasang.

Badong nasihat

Hai..! Di manakah orang sekampung kita ?

Yaitu tetangga kita ?

Rumpun keluarga kita ?

Ayo! Berdirilah lalu kita menuangkan kesedihan kita

Saya terdiam dengan sangat sedih

Mari kita menguraikan kesedihan hati.

Tidakkah engaku berduka ?

Tidakkah kesedihan di hatimu?

Kepada raja yang budiman ini ?

Bapa dengarkanlah kami.

Ya bapa miringkanlah telinga.

supaya kami bisa menyampaikan syair kesedihan kami

Kalau kita hendak mengatakan kesedihan,

janganlah kita perolokkan kesedihan,

jangan kita buat seperti permainan.

Kalau kita bersedih saling memperingati :

Kita bukanlah orang lain,

Tiba untuk memakan besi (berduka)

Jangan kita sebut bersedih itu salah,

Mengungkapkan ragam pertentangan

Supaya kita selamat sekalian

Bersentosa semuanya.

Badong ratapan

 

 

Pada waktu kepalanya sakit,

Semua rambutnya merasakannya ;

Makin keras sekerasnya,

Bertambah dari malam ke malam.

Hanya sedih keluh penghabisannya,

Sehabis ratapan memanggil ibunya ;

Putuslah angin pada mulutnya (artinya mati);

Habislah jiwa pada badannya (artinya mati)

Sayang sioh sayang dia,

Yang di atas nenek leluhur kita ;

Bersama pertuanan kita,

Mengamburkan sumpitannya.

Dihamburkan salakah,

Diukur tidakkah benar;

Adakah orang yang yang tak dikena,

Yang tidak disapu ratakan ?

Akan ditantangkah langit ke atas,

Akan ditaruhkan kayu pilar?

Sayang sioh sayang ia Nenek,

Leluhur kita tidak adil.

Kalau ditunjukkan kepada kita,

Kalau dikenakan pada kita masing-masing;

Tak akan dapat dielakkan,

Tak dapat dilindungi.

Seakan kita ini pohon bambu tebangan Tuhan,

Kalau kita menoloh kembali,

Kita tidak akan membawa penyesalan.

Ini di atas orang melentang,

Yang berbaring arah ke selatan ;

Melintasi ikatan papan lantai,

Mengikuti balak tengah rumah.

Sudah pergi bersama dengan embun,

Bersama dengan asap bara api ;

Diikut-ikuti oleh awan,

Ke selatan negeri tuhannya jiwa di negeri jiwa

Mengikuti jejak Adam,

Mengikuti manusia pertama ;

Sudah menjadi berhala di sana,

Sudah menjadi pelindung.

Akan memberikan kita berkat yang cukup.

Keselamatan masing2 sekalian ;

Supaya kita selamat sekalian,

Semuanya bersentosa.

Badong berarak

Lihat orang yang sebenarnya,

Orang yang ditempa oleh ilahnya ;

Sepertinya tidak sebanding,

Yang setara dengan keadaannya.

Bersamaan ditempa dengan bintang gemerlap.

Bersamaan dibentuk dengan bunga’ lalan (nama bintang)

Bulan purnama yang didudukinya,

Sinar matahari yang ditempatinya.

Padang berlumpur dilewati olehnya,

Menganguskan rerumputan ;

Banyak perbekalan di jalannya,

Berasnya melimpah pada waktu sore.

Telah berangkat diikuti embun,

Diikuti awan-awan ;

Ke selatan negeri Pong Lalondong.

Di sana kotanya yang tetap.

Akan senegeri dengan nenek moyangnya,

Sekedudukan dengan yang menenpanya ;

Semua yang berwujud manusia,

Dengan manusia di bumi.

Badong selamat (berkat)

Begitulah uraian kesedihan kamu,

Penjelasan kesedihan kami,

Menjadi bekal perjalannya,

Keselatan ujung2nya langit.

Ke selatan negeri tuhannya jiwa.

Di sana negeri orang yang bersedih ;

Cukup dengan kain pembungkusnya,

Genap kerbau bantaiannya.

Sudahlah ditatang dengan tangkean suru,

Telah dipelihara dengan kata sepakat.

Supaya kita semua selamat,

Kita sekalian bersentosa

Beberapa foto ma’badong

 

para pria dewasa ma’badong dengan seragam baju putih dan sarung hitam, sedangkan di samping mereka ada barisan keluarga dan tamu duka melewati lantang (rumah adat untuk upacara).

Pa’badong sedang melakukan upacara ma’badong, dan ada seorang pemimpin yang mengenakan pakaian berbeda.

Penari dan pemusik ba’gellu mengiringi upacara-upacara adat di Tana Toraja, salah satunya di upacara kematian.

Setiap upacara kematian, ma’silaga tedong juga dilakukan sebelum atau sesudah ma’badong.

BAB III

KESIMPULAN

Badong adalah warisan kebudayaan yang telah diwariskan turun-temurun oleh penduduk asli dan keturunan suku Toraja sejak berabad-abad yang lalu. Karena kekhasan, fungsi dan peranan, serta nilai kebudayaan untuk bersama-sama mendoakan orang yang telah meninggal membuat ma’badong masih bertahan hingga sekarang, bahkan sering dilaksanakan.

Pelaksanaan upacara yang sakral ini tidak dinilai dengan penilaian ekonomis atau menjadi materi kekayaan, tetapi upacara yang mengandung kekayaan yang tidak ternilai harganya, sehingga harus tetap dilaksanakan dan dipedulikan oleh seluruh bangsa Indonesia, khususnya masyarakat asli Tana Toraja.

SARAN

Kebudayaan Indonesia sangat luas dan sangat kaya untuk dipelajari, terutama untuk mata kuliah Tradisi Sastra Nusantara. Karena itu, sebaiknya setiap kebudayaan dari daerah yang berbeda hanya dibahas pada 1 jam kuliah, sehingga pembelajaraan budaya-budaya lisan lain di Nusantara bisa dilebih banyak.

Pemerintah, yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bekerjasama dengan lembaga kebudayaan Toraja untuk memperkenalkan kebudayaan Tana Toraja lebih jauh lagi pada masyarakat luas, terutama mahasiswa, sehingga dapat dipelajari dan dikembangkan bersama-sama.

Setiap sivitas akademika, yaitu dosen dan mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia bekerjasama mengadakan acara-acara pengenalan kebudayaan Nusantara di kampus Universitas Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

L. Pakan, Badong Njanjian Kedukaan di Tana Toradja di Kabupaten Tana Toradja, [i.t][t.p][t.th], Dari Majalah Bahasa dan Budaya,

Danandjaja, James, Folklor Indonesia, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1994.

Pudentia, MPSS Metodologi Kajian Tradisi Sastra Lisan, Asosiasi Tradisi Lisan (ALT), 2008.

http://kfk.kompas.com/sfkphotos/2009/02/27/tarian-mabadong-5293

http://wapedia.mobi/id/Ma%27badong

http://bimbinganmu.blogspot.com/2008/03/mabadong.html

http://students.ukdw.ac.id/~23050034/kesenian.htm

http://cybertravel.cbn.net.id/cbprtl/cybertravel/detail.aspx?x=Time+Traveller&y=cybertravel|3|0|3|478

http://ilovetoraja.blogspot.com/2008_07_01_archive.html

About these ads

11 thoughts on “Badong Sebuah Tari dan Nyanyian Kedukaan di Tana Toraja

  1. hi sis….. aq pengen tahu lebih dalam lagi ttg ma’badong dalam upacara rambu solo, jadi mohon bimbingannya dalam penyusunan skripsi aq. thx ya….

  2. sis, punya buku budaya toraja ya??? sis, ada didaerah mana sekarang? bisa gak kalau kita ketemuan untuk minta bimbingan ttg ma’ badong

  3. luar biasa!
    begitu kaya bangsa ini. saya bangga jadi anak Indonesia. artikel menarik dan enak dibaca. foto-fotonya jg oke!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s